Wednesday, October 12, 2011

Jalan Sang Dai/Pendakwah

Oleh: Muhammad Elvandi, Lc 

Dakwatuna.com- Idealisme adalah bara yang memanaskan semangat hidup manusia. Dengan semangat itu hati yang lemah tergerak, pikiran yang tergenang menjadi seganas samudera, dan kaki yang berat mulai melangkah dan berlari mengejar mimpi tertingginya.

Inilah pelajaran idealisme. Inilah jalan yang pernah ditapaki manusia-manusia besar sepanjang sejarah. Mereka telah menelusuri setiap detail episode Sang Tokoh ideal. Mempelajari setiap senyum dan perhatiannya sehingga menjadi manusia paling sejuk raut mukanya dan tinggi moralnya. Mempelajari setiap pikirannya sehingga menjadi manusia paling bijak. Setiap momen keberaniannya membuat mereka menjadi petarung tak kenal ragu. Setiap sikap jujurnya menginspirasi mereka menjadi okonom teratas di zamannya. Setiap kebijakannya menumbuhkan mereka menjadi negarawan terlihai. Bahkan mereka belajar menjadi bapak yang teladan bagi anak-anaknya, tetangga yang peka, suami yang penyayang, pemuda yang terhormat, atau spesialis yang profesional.

Dan sekumpulan manusia-manusia beridealisme itu pernah melukis kanvas sejarah sejak 15 abad yang lalu sehingga warnanya terlihat jelas hari ini. Warna itu adalah umat. Saat dakwah membangun umat itu dimulai dengan kesendirian, bahkan terasing dan terusir, lalu singkat saja menjadi 110 ribu jumlahnya dan tidak lama kemudian umat berkembang hingga terbentang hingga kekuasaannya dari China hingga Sepanyol. Dari Rusia hingga Indonesia dan sekarang jumlahnya hampir mencapai satu setengah milyar/bilion.

Benar, mereka telah mengikuti jejak langkah yang benar. Karena idealisme itu dipelajari dari manusia ideal. Seorang manusia yang tidak layak dibandingkan dengan manusia-manusia sekelas Newton atau Napoleon, atau sekadar Caesar dan Voltaire. Karena ia bahkan lebih agung dari Nabi Isa, Musa, Daud, Ibrahim dan seluruh nabi. Ia telah melintasi langit dengan jasad dan ruhnya, juga melihat surga dan neraka saat hidup dengan kedua matanya secara langsung, bukan dengan akal saja.

Seorang manusia yang masih lebih tinggi derajatnya dari malaikat, dari Jibril malaikat teragung sekalipun. Saat Jibril tidak mampu menembus Sidratul Muntaha, ia diizinkan. Dan tak seorang pun diizinkan masuk surga kelak sebelum ia masuk. Dan tidak ada kehormatan yang lebih tinggi dari pengakuan langsung pencipta alam semesta, ”Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur [al-Qalam:4]”.

Muhammad Rasulullah adalah guru mereka. Generasi awal sahabat Rasulullah tahu benar jalan membangun umat. Karena pada dasarnya umat adalah sekumpulan manusia yang hidup dengan pola tertentu, maka pola itulah yang mereka pelajari dari Rasulullah. Pola baru yang menggantikan pola hidup lama di zaman jahiliyah. Qur’an sebagai Idealisme yang turun dari langit adalah pola itu. Dan Islam yang mereka serap mendapatkan contoh aplikatifnya dalam kehidupan Rasulullah. Seperti kata Aisyah saat ditanya tentang hidup Rasul ‘‘Akhlaqnya adalah Al-Qur’an’’. Oleh sebab itu mengertilah, mengapa Rasulullah mengatakan ‘‘Generasi terbaik adalah di zamanku kemudian generasi berikutnya dan berikutnya’’.

Mereka telah membuktikan jalan menuju kejayaan umat itu. Dimulai dari 13 tahun ketahanan terhadap penganiayaan di Mekkah, lalu Hijrah meninggalkan tanah kelahiran. Kemudian puluhan peperangan bertubi-tubi, negosiasi, hingga kembali ke Mekkah sebagai umat baru yang berjaya, berbusung dada dan tegak kepala sedang hatinya tunduk khusyu bersyukur. Lalu manusia berbondong-bondong masuk ke agama ini.

Dan itu bukanlah akhir, karena setelahnya, manusia terbaik setelah para Nabi itu, Abu Bakar terus membawa umat mendaki lereng peradaban. Ia kokohkan basis persatuan umat. bahkan basis Islam dengan pengumpulan sumber agama ini dalam satu tempat yang mudah dibaca dan dipelajari generasi setelahnya, yaitu Al-Qur’an.

Mereka yang telah menapaki jalan itu telah menyelesaikan tugasnya dengan gilang gemilang. Sampai pada derajat yang dalam surat Al-Fath ayat 18, disebutkan “Allah meridhai mereka yang telah berbaiat di bawah pohon” . Namun tugas belum selesai. Karena beban dakwah untuk membawa umat ke puncak kembali masih panjang.

Jika mereka menemukan kunci menuju kejayaannya, maka kunci itu sebetulnya tidak pernah berubah. Karena sejarah akan selalu berulang. Semua sebab-sebab kemenangan merekalah yang akan menjadi modal untuk kemenangan-kemenangan umat hari ini saat umat memenuhi syarat-syaratnya. Begitupun beberapa keteledoran (kelalaian, negligence) mereka akan menjadi kehancuran saat umat menirunya sekarang ini.

Oleh karena itu Rasulullah mengatakan “Tidak tuntas urusan umat ini kecuali dengan jalan para pendahulunya”. Dan inilah jalan ideal itu, jalan Sang Dai. Jalan Rasulullah membangun umat dari titik nol (sifar) menuju puncak rahmat dan kebaikan bagi alam seluruhnya, bukan hanya manusia.

http://www.dakwatuna.com/2011/10/15492/jalan-sang-dai/

Enam Pesan Ahli Syurga

Oleh: Inayatullah Hasyim 

dakwatuna.com - Betapa indahnya ketika berbicara tentang surga/syurga. Dan tahukan engkau apa itu surga? Surga adalah rumah tinggal yang abadi yang menjadi tujuan setiap hamba Allah yang shalih. Surga adalah pusat aspirasi semua hamba Allah. Surga adalah di atas (beyond) apa yang kita lihat, di atas apa yang kita dengar dan di atas apa yang muncul dalam pikiran manusia,

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 107-108:

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, (*) Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya. (QS Al-Kahfi: 107-108).

Rasulallah SAW bersabda, sebagaimana disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dari hadits riwayat Abu Hurairah, (Allah berfirman, Aku telah mempersiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih surga yang (kenikmatannya) belum pernah ada mata yang telah melihat, dan tidak pernah ada telinga yang telah mendengar maupun telah terdetik di hati manusia).

Dengan kasih Allah dan rahmat-Nya kepada kita, Dia telah membentangkan gambaran surga yang nikmat itu, dengan menekankan keabadian dan kesempurnaan, tanpa kekurangan sedikitpun, tidak panas atau dingin, tidak lelah dan tidak sibuk dengan hiruk pikuk, tak ada kerugian, tidak ada yang dicurangi. Sekali teguk kenikmatan di surga melupakan semua penderitaan dalam hidup ini. Timbul pertanyaan, mengapa semua ini diceritakan wahai hamba-hamba Allah? Hal ini semata untuk mengajak orang-orang beriman ke surga dengan penuh semangat. Agar mereka bergegas menuju berbagai kebahagiaan, taman dan segala istananya. Sebab surga adalah tempat tinggal yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya sendiri, dipersiapkan sebagai rumah untuk orang-orang yang dicintai-Nya agar mengisinya dengan rahmat, kemuliaan dan ridha-Nya. Dia menggambarkan kenikmatannya sebagai kemenangan besar, pemiliknya sebagai raja diraja, segala kebaikan dan kemurniannya dijaga dari setiap cacat dan kekurangan. Celakalah jiwa-jiwa yang tidak menginginkan hal itu, tidak ingin melihatnya, dan tidak berusaha untuk masuk ke dalamnya!

Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk merenungkan hadits-hadits Nabi SAW yang terkait langsung dengan mereka yang dijanjikan surga, seraya berdoa kepada Allah agar kita dimasukkan surga bersama keluarga dan kerabat kita semua. Tak ada surga kecuali dengan berusaha menggapainya.

Pesan Pertama: Kisah Abu Bakr dan amalan-amalan baiknya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata: “Rasulullah SAW berkata, Siapa di antara kamu yang berpuasa hari ini? Abu Bakar menjawab: “Aku”. Dia bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang telah mengikuti pemakaman hari ini?” Abu Bakar berkata: “Aku”. Dia berkata lagi, “Siapa di antara kalian yang memberi makan orang miskin hari ini? Abu Bakar berkata, “Aku”. Dia bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Aku”. Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Jika terkumpul seluruh amalan seperti di pria ini, niscaya ia akan masuk surga”.

Diriwayatkan dari Abd al-Rahman bin Abi Bakr, dia berkata, “Rasulullah SAW shalat subuh, kemudian bertemu dengan para sahabatnya”. Dia berkata: “Apakah ada di antara kalian yang hari ini berpuasa? Umar bin al-Khattab menjawab, “Ya Rasulallah, aku tidak berniat puasa, maka pagi ini aku berbuka (sarapan).” Abu Bakar berkata, “Kalau aku, sejak semalam sudah berkata pada diriku sendiri untuk puasa, maka aku puasa.” Rasulullah SAW kemudian bertanya lagi, “Apakah ada di antara kalian hari ini yang menjenguk orang sakit? Umar berkata, “Ya Rasulullah, kami shalat dan berdoa denganmu, bagaimana kami dapat menjenguk orang yang sakit?” Abu Bakar berkata: “Aku mendengar bahwa adikku, Abdul Rahman bin Auf, merintih maka aku mencari cara untuk bisa mengunjunginya ketika aku datang ke masjid, Rasulullah SAW bertanya lagi, “Sudahkan ada di antara kalian yang bersedekah hari ini? Umar berkata, “Ya Rasulullah, kami kan shalat dan berdoa bersamamu dan tidak sempat istirahat.” Abu Bakar berkata: “Ketika aku masuk masjid di tengah jalan ku jumpai pengemis, di tanganku ada segenggam roti yang kudapat dari Abdurrahman, aku berikan kepadanya”. Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Aku beri kabar gembira untukmu (Abu Bakar, termasuk ahli) surga.” Umar menggumam, “oh…oh… oh… ahli surga.”

Pesan Kedua: Utsman radhiallahu anhu dan Infaq.

Diriwayatkan dari Tsamama bin Hazn al-Qusyairi, radhiallahu anhu, dia berkata: Aku menyaksikan Peristiwa Dar (yaum al-dar), ketika mereka, penduduk Madinah, memuliakan Ustman untuk bercerita amal-amal baiknya di hari itu. Ustman berkata: “Tahukah kalian bahwa ketika Rasulullah sampai ke kota Madinah, dan tak ada cadangan air (di kota itu) kecuali sumur milik Raumah. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membelinya dan menjadikan embernya dan ember (baldi/timba) kaum muslimin masuk ke sumur itu, niscaya baginya surga? Aku membelinya dari harta tabunganku. Hingga hari ini, aku larang diriku sendiri untuk meminum air dari sumur itu hingga aku harus minum air laut. Mereka menjawab, “Ya”. Utsman berkata lagi, “Dan dengan memuji Allah dan mengagungkan Islam, tahukah kalian bahwa (suatu hari) masjid itu sudah sempit dengan jamaah, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mau membebaskan tanah si fulan, niscaya diberikan kebaikan baginya dari masjid itu hingga ke surga, aku membelinya dari hartaku. Hingga hari ini aku cegah diriku untuk shalat dua rakaat di masjid itu”. Mereka berkata, “Ya”. Ustman berkata lagi, “Dengan memuji Allah dan mengagungkan Islam, Tahukan kalian bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang membekali tentara, niscaya wajib baginya surga. Maka aku berikan perbekalan (pada tentara). Mereka berkata, “Ya Allah, ya benar”. Ustman berkata lagi, “Dengan memuji Allah, Tahukah kalian aku dulu berada di gunung Tsabir di pinggir kota Mekah bersama-sama dengan Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar, maka tiba-tiba gunung terguncang, sehingga batunya berjatuhan ke dasar, Rasulullah SAW menghindar dengan kakinya, dan berkata: “Tenanglah wahai (gunung) Tsabir. Sesungguhnya, di dekatmu ada seorang Nabi, seorang yang jujur dan dua orang yang menjadi syahid. Mereka berkata, “Ya”. Ustman berkata, “Allah Akbar, saksikanlah aku agar kelak masuk surga, wahai tuhan pemilik Ka’bah. Ia berucap tiga kali.

Pesan Ketiga: Terjaga dengan ibadah di waktu malam

Salah seorang tabiin (generasi setelah sahabat Nabi) berkata, saat itu mereka tengah merindukan surga dan para bidadarinya, “Aku akan membeli seorang bidadari dari sekian banyak bidadari surga dengan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu malam, aku tidak akan tidur sampai aku selesai khatam tersebut.” Dia sudah mengkhatamkan sebanyak dua puluh Sembilan juz, lalu rasa kantuk menyerang hingga ia tertidur. Dalam tidurnya ia mimpi bertemu bidadari, dan sang bidadari berkata berkata,

Apakah engkau akan meminang bidadari sepertiku, dan engkau tertidur. Sementara orang yang mencintaiku, aku haramkan tertidur. Karena aku dicipta untuk setiap orang yang banyak melakukan shalat dan rajin bangun malam. Mendengar itu, ia terbangun, dan langsung melanjutkan usahanya, dan ia kemudian berkata: Dengan izin dan rahmat Allah, aku akan berusaha untuk mendapatkan semua ini, untuk mendapatkan salah satu dari bidadari itu.

Abu Sulaiman Aldarini – belas kasihan Tuhan – suatu kali tertidur pada suatu malam malam, dia dikenal sebagai ahli ibadah, seorang yang zuhud, dan tulus kepada Allah, dan ketulusan dengan Tuhan, Yaman itu sendiri, termasuk surga yang penuh kenikmatan. Pada suatu malam dia berkata, tidur dan diri kadang-kadang berbicara tentang apa yang Anda inginkan dan apa yang ingin Anda dan termasuk cinta – berkata: Aku melihat – sebagaimana yang sering dilihat oleh orang tengah tidur, suatu kali bidadari datang kepadaku dan berkata: “Inikah perbuatan orang-orang shalih?” “Wahai Abu Sulaiman – Apakah engkau tertidur dan aku telah menunggumu sejak lima ratus tahun”. Tidak ada Tuhan selain Allah; Sejak itu, ia tak lagi tidur kecuali hanya sedikit saja, hal itu dimaksudkan agar ia sungguh-sungguh bertemu dengannya.

Pesan Keempat: Bilal bin Rabah, radhiallahu anhu dan wudhu

Bilal adalah bujang yang bekerja pada Abu Bakar, semoga Allah senang dengan dia. Ia termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam, karena itu ia dihukum oleh kaumnya dan mereka memaksanya untuk bersaksi “Tuhanku Latta dan Uzza”. Namun, Bilal tetap teguh berkata, “Ahad… ahad…” Datanglah Abu Bakar dan membebaskannya dari perbudakan/perhambaan dengan membelinya seharga tujuh (sebagian mengatakan lima) kantong emas. Rasulullah SAW kemudian menyatakannya sebagai manusia merdeka. Maka, sejak itu Bilal menjadi muadzin Nabi, baik saat berdiam di Madinah atau saat berperjalanan.

Abu Hurairah RA berkata: Suatu hari Rasulullah SAW beserta Bilal: “Ceritakanlah padaku satu pekerjaan yang dilakukan dalam Islam memberikan manfaat, aku mendengar Nabi SAW mengatakan ia sudah mendengar suara sandal Bila di surga. Bilal menjawab, aku tidak mengerjakan apa-apa, kecuali menjaga wudhuku hingga seringkali aku shalat maghrib dengan wudhu shalat dzuhur.”

Pesan Kelima: Di mana tokoh seperti Abu Dahdah sekarang?

Abu Dahdah, nama lengkapnya adalah Tsabit bin Dahdah al-Anshari, salah satu pelaku sejarah perang Uhud dan menemui kematiannya pada perang tersebut. Diriwayatkan dari Jabir bin Samrah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Betapa banyak decak kekaguman untuk Abu Dahdah di surga”. Dan diriwayatkan oleh Imam At-Tabrani dalam kitab Al-Awsat (2/517) dari hadits Umar dengan lafadz, manakala ayat Allah SWT turun, “Barangsiapa yang memberikan pinjaman kepada Allah sebaik-baik pinjaman” Abu Dahdah berkata, Ya Rasulullah, apakah kita harus meminjamkan Allah dengan harta kita?”. Rasulullah SAW menjawab, “Ya.” Dia berkata: Sesungguhnya aku punya dua dinding (lantai), satu di atas, satu lagi di bawah.. Aku telah meminjamkannya untuk Allah.

Pesan Keenam: Tidak Ghibah

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Bahwasanya ada seseorang bertanya, Ya Rasulullah, si fulan dikenal banyak melakukan shalat dan puasa, hanya saja dia selalu menyakiti tetangga dengan lidahnya. Rasulallah bersabda, “Dia di neraka.” Orang tersebut bertanya lagi, “Sementara ada juga si fulanah dikenal sedikit saja shalat dan puasanya sebab dia sibuk memberi makan sapinya, dan dia tidak mengguncingkan tetangganya”. Rasulullah SAW bersabda, “Dia di surga”.

http://www.dakwatuna.com/2011/09/13704/enam-pesan-ahli-surga/

Meraih Kekuatan dari Ketaatan

Oleh: Jenderal Unyil 
 
dakwatuna.com – “Kesalahan paling fatal adalah bila engkau berusaha mengatur dan menata kehidupan sekitarmu, tapi engkau membiarkan kekacauan di hatimu.” (Mustafa Shadiq ar Rifa’i dalam Wahyul Qalam)

Ibnu Qayyim al Jauziah, dalam bukunya Madaarij as Saalikiin berkata, “Sesungguhnya dalam hati terdapat sebuah robekan yang tidak mungkin dapat dijahit kecuali dengan menghadap penuh kepada Allah. Di dalamnya terdapat juga yang tidak mampu diobati kecuali dengan menyendiri bersama Allah. Di dalam hati juga ada sebuah kesedihan yang tidak akan mampu diseka kecuali dengan kebahagiaan yang tumbuh karena mengenal Allah dan ketulusan berinteraksi dengan Nya. Di dalam hati juga terdapat sebuah kegelisahan yang tidak mampu ditenangkan kecuali dengan berhimpun karena Allah dan pergi meninggalkan kegelisahan itu menuju Allah. Di dalam hati juga terdapat gejolak api yang tidak dapat dipadamkan kecuali oleh keridhaan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah, yang diiringi dengan ketabahan dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan dengan Nya.”

Bersyukurlah, karena Allah telah anugerahkan pada kita sebuah ‘alat’ motivasi terbaik dunia. Percayalah, hati yang dekat pada Allah adalah sumber motivasi dan semangat pergerakan kita. Maka raihlah kekuatan dengan mengokohkan ketaatan. Dan hindarilah kelemahan dengan menjauhi kemaksiatan.

Multiplier Effect dari Kebaikan dan Keburukan

“Akibat ternikmat dalam kebaikan adalah menghadirkan kebaikan pula,” kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Begitu pula kemaksiatan akan mengundang kemaksiatan-kemaksiatan yang lain. Nothing personal, karena semua tindakan kita akan berakibat pada tindakan-tindakan kita yang lain. Bahkan pengaruhnya bisa sangat besar. Fudhail ibnu Iyadh berkata, “Aku bermaksiat kepada Allah, kemudian aku lihat dampaknya pada istriku bahkan hewan-hewan peliharaanku”.

Akhirnya, hal mendasar yang paling perlu kita perbaiki ketika kelemahan hadir adalah ketaatan kita kepada Allah SWT. Dan Semoga Allah kokohkan kita dalam ketaatan kepadaNya. Aamiin.

http://www.dakwatuna.com/2011/10/15335/meraih-kekuatan-dari-ketaatan/

Di Atas Ranjang/Katil Kematian

Oleh: Inayatullah Hasyim 

Kisah para tauladan menyambut kematiannya.

dakwatuna.com - Saudaraku, berikut ini kisah para Nabi dan sahabat yang mulia saat menyambut kematiannya. Kisah-kisah mereka penuh teladan, sarat pesan dan menjadi bahan renungan.

Kekasih Allah Ibrahim Allaihi Salam

Bercerita Imam Muhasabi dalam kitab “Ar-Riayah” bahwa Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim, allaihi salam: ”Wahai kekasihku, bagaimana engkau menemukan kematianmu?” Dia berkata: Seperti tusuk besi (yang dipakai untuk membakar daging) yang diletakan di atas bulu yang basah, kemudian ditarik.” Kemudian Allah berfirman, “Sungguh (yang demikian itu) telah kami mudahkan kematian bagimu, Wahai Ibrahim.”

Nabi Allah Daud, Allaihi Salam

Diriwayatkan bahwa malaikat maut datang untuk menjemput Nabi Daud alaihi salam. Daud berkata: “Siapakah engkau?” Dia menjawab, “Kami yang tidak takut raja dan tidak mengabaikan orang-orang kecil, kami juga tidak menerima suap”. Daud berkata: “Jika demikian, anda adalah malaikat kematian?” Dia menjawab: “Ya”, Daud balik berkata: “Kok, mendadak begini, aku tidak mendapatkan pemberitahuan (terlebih dahulu)” Malaikat berkata: “Hai Daud, di mana sahabat-mu fulan? Di mana pula si fulanah, tetanggamu?” “Mereka sudah mati”, jawab Daud. “Bukankah itu pemberitahuan padamu untuk bersiap-siap.”

Nabi yang diajak bicara oleh Allah, Musa allaihi salam

Dikisahkan bahwa Nabi Musa allaihi salam ketika jiwanya berangkat menuju Allah, Allah berfirman: “Hai Musa, Bagaimana kau menemukan kematian?” Dia menjawab, “Aku mendapati diriku seperti burung hidup yang digoreng di atas penggorengan, tidak mati sehingga aku istirahat, dan tidak bertahan hidup sehingga aku terbang”. Diriwayatkan bahwa Musa berkata: “Aku menemukan diriku sebagai seekor kambing dikuliti oleh tukang daging dalam keadaan hidup”.

Ruh Allah, Isa allaihi salam

Isa putra Maryam, allaihi salam, berkata, “Wahai kaum Hawariyin, berdoalah kepada Allah agar kalian dimudahkan pada saat syakrat (maut) ini” Diriwayatkan bahwa kematian lebih berat dari tebasan pedang, gorokan gergaji dan capitan gunting.

Rasulullah saw menggambarkan kematian kepada para sahabatnya

Diriwayatkan dari Syahr bin Husyab dia berkata, Rasulullah saw ditanya tentang beratnya kematian? Dia (saw) bersabda, “kematian yang paling ringan adalah seperti bulu wol yang tercerabut dari kulit domba. Apakah mungkin kulit dapat keluar kecuali bersama bulu-bulunya itu?”

Abu Bakar As-shidiq, radiallahu anhu

Ketika Abu Bakar radiallahu anhu menghadapi hari-hari kematiannya, dia sering membaca, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya” (Qur’an Surah: Qaaf 19).

Dia berpesan kepada Aisyah, puterinya: “Lihatlah kedua pakaianku ini, cucilah keduanya dan kafankan aku dengannya. Sesungguhnya mereka yang hidup lebih utama menggunakan baju baru daripada yang sudah jadi mayait.”

Di detik-detik menjelang kematiannya, ia berpesan kepada Umar dengan berkata, “Aku berpesan padamu dengan satu wasiat, sebab tak mungkin engkau mendahuluiku. Sesungguhnya Allah Maha Benar dengan tidak pernah membuat malam mendahului siang, dan siang tak pernah mendahului malam. Sesungguhnya, tidak diterima ibadah-ibadah sunah, jika yang wajib tak ditunaikan. Dan, akan diberatkan timbangan (kebaikan) di akhirat bagi mereka yang menunaikan hak-hak di dunia. Dan akan diringankan timbangan (kebaikan) seseorang di akhirat jika diikuti dengan kebatilan.

Umar bin Khathab, radiallahu anhu

Ketika Umar bin Khattab ditusuk oleh seseorang, Abdullah bin Abbas datang menjenguknya, dia berkata: “Engkau telah masuk Islam saat orang-orang (lain) masih kafir. Dan engkau selalu berjihad bersama Rasulallah SAW saat orang-orang (lain) malas. Saat Rasulallah SAW wafat dia sudah ridha denganmu”. Umar kemudian berkata, “Ulangi ucapanmu!” Maka diulang kepadanya. Dia kemudian berkata, “celakalah orang yang tertipu dengan ucapan-ucapanmu itu.”

Abdullah bin Umar, puteranya, berkata: waktu itu kepala ayahku di pangkuanku, saat sakit menjelang kematian. Ayah berkata, “letakan kepalaku di atas tanah!” Aku menjawab, “Bagaimana ayah, apakah tidak sebaiknya di atas pangkuanku saja.” “Celaka kamu, letakan di atas tanah.” Ayah setengah membentak. Kemudian, Abdullah bin Umar meletakannya di atas tanah. Umar berkata, “Celaka aku, celaka juga ibuku, jika Tuhanku tidak menyayangi aku.”

Ustman bin Affan, radiallahu anhu

Setelah ditusuk/ditikam oleh orang-orang yang memberontak, hingga darah mengalir ke janggutnya, Ustman berkata, “Tidak ada Tuhan selain Engkau (ya Allah), Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Ya Allah, aku memohon perlindungan-Mu, dan pertolongan-Mu atas segala persoalanku, dan aku memohon pada-Mu diberikan kesabaran atas ujian ini.”

Setelah ia akhirnya wafat, para sahabatnya membuka lemari yang terkunci. Mereka mendapatkan satu kertas yang tertulis begini: “Bismillahirrahman ar-rahim, Ustman bin Affan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, tak ada sekutu bagi-Nya. Dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Dan bahwa syurga adalah benar (adanya). Dan bahwa Allah kelak akan membangkitkan setiap yang dikubur pada hari yang tidak ada lagi keraguan padanya (kiamat). Sesungguhnya Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Atas nama-Nya kita hidup, atas nama-Nya kita mati dan atas nama-Nya pula kita akan dibangkitan, insya-Allah.”

Ali bin Abi Thalib, radiallahu anhu.

Setelah ditusuk/ditikam, Ali radiallahu anhu berkata: Apa yang sudah dilakukan terhadap orang yang menusukku? Mereka menjawab, “Kami telah menangkapnya”. Ali berkata, “Beri makan dan minum dia dengan makanan dan minumanku. Jika aku hidup, aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Jika aku mati, maka pukulah dia sekali pukul saja, jangan kalian tambahkan sedikitpun.”

Kemudian Ali berpesan kepada Hasan, puteranya, agar memandikannya. Ali berkata, “Jangan berlebih-lebihan dalam mengkafaniku, sesungguhnya aku mendengar Rasulallah SAW bersabda, janganlah bermewah-mewahan dalam berkafan sebab yang demikian itu menghimpit dengan keras.”

Kemudian Ali berpesan lagi: “Bawalah aku di antara rakyat. Jangan terlalu cepat, juga terlalu lambat. Jika aku memiliki kebaikan, niscaya (dengan membawa aku ke hadapan mereka) kalian telah mensegarakan aku menuju kebaikan itu. Jika aku memiliki keburukan, kalian telah mengantarkan aku untuk bertemu dengannya sebelum aku dihisab.”

Amr bin Ash, radiallau anhu.

Pada tahun 43 hijriyah, Amr bin Ash menemui kematiannya saat ia menjadi gubernur di negeri Mesir. Pada hari-hari terakhir menjelang kematiannya, ia berkata, “Aku dulu seorang kafir yang paling keras…. Aku juga orang terkeras pada Rasulallah SAW. Sekiranya aku mati ketika itu, aku pasti masuk neraka. Kemudian, aku berbaiat kepada Rasulallah SAW. Tak ada manusia yang paling aku cintai melebihi beliau SAW. Tak ada yang … Sekiranya aku diminta untuk membuat naat (pada saat kematiannya), niscaya aku tak mampu. Sebab, aku tak pernah bisa berhenti menyeka airmataku sebagai kekagumanku padanya. Sekiranya pada saat itu aku mati, aku mesti masuk syurga…. Kemudian aku diuji setelahnya dengan kekuasaan… dan dengan hal-hal yang aku tidak tahu, apakah akan menolongku atau membebani aku” Kemudian, Amr bin Ash mendongakkan kepalanya ke langit, dan berkata,

“Ya Allah… tak ada lagi (alasan) pembebas….. Sehingga aku dapat meminta maaf. Tak ada lagi kekuasaan sehinga aku minta tolong. Sekiranya Engkau tidak merahmati aku, nicaya aku termasuk orang-orang yang celaka!!” Begitulah selalu ia memohon ampun kepada Tuhannya, hingga ajal menjemputnya dan ia mengucapkan, “La Ilaha Illa Allah…”

Diriwayatkan bahwa sebulan sebelum kematiannya, anaknya berkata padanya, “Wahai ayah… engkau pernah berucap kepada kami…. semoga kami dapat bertemu sesorang yang cerdas yang dapat menceritakan suasana saat kematian. Engkaulah orang itu, ceritakan pada kami bagaimana kematian? Maka, Amr bin Ash berkata, “Wahai anakku, seakan-akan di punggungku ada lemari yang menindih, dan seakan akan bernafas dari lubah jarum ..

Huzaifah bin Yaman, radiallahu anhu.

Pada suatu hari di tahun ke tiga puluh enam hijriyah…. Huzaifah dipanggil menghadap-Nya. Saat ia berusaha untuk bersiap-siap menuju perjalanan ke negeri akhirat, masuk sejumlah sahabat ke kamarnya… Ia bertanya pada mereka. “Apakah kalian datang membawa kain kafan?” Mereka menjawab, “Ya” Dia berkata, “Tunjukan padaku!” Setelah melihatnya, ia mendapati kain kafan itu masih baru…. Dengan susah payah ia berucap, “Kain kafan apa ini? Sungguh aku hanya butuh dua helai kain putih yang tak terjahit…Sesungguhnya aku tidak menggunakannya di kuburan kecuali hanya sebentar hingga aku mengganti keduanya dengan yang lebih baik… atau yang lebih buruk.

Selanjutnya, dia mengucapkan kalimat yang tak jelas.. Para sahabatnya berusaha mendengarkan… ia berucap: “Selamat datang kematian. Kekasih yang datang dengan membawa rindu. Tak akan beruntung mereka yang menyesal (di hari ini).

Ruhnya kemudian terbang menuju Allah. Itulah salah satu hamba yang paling bertakwa….

Muadz bin Jabal, radiallahu anhu.

Sampailah Muadz bin Jabal ke ajalnya. Ia dipanggil untuk bertemu Allah…. Pada saat sakratul maut, setiap perasaan yang sesungguhnya akan mencuat, dan terucap di lidah seseorang, sekiranya ia masih dapat bicara. Ucapan yang dapat dikatakan sebagai kesimpulan dari perjalanan hidup seseorang. Pada saat-saat seperti itu, Muadz mengucapkan kalimat yang sangat menakjubkan yang mengungkap cita-cita seorang mu’min. Ia menghadap ke langit, seakan berdialog dengan Tuhannya. “Ya…. Allah, aku dulu sangat takut pada-Mu. Tetapi hari ini aku ingin bertemu dengan-Mu. Ya… Allah, sesungguhnya Engkau Maha Tahu bahwa aku tidak mendahulukan dunia untuk akheratku.”

Sa’ad bin Abi Waqash, radiallahu anhu

Pada suatu hari di tahun lima puluh empat hijriyah, Sa’ad bin Abi Waqash telah berusia di atas delapan puluh tahun. Setiap hari ia berharap segera menemui kematiannya. Salah satu anaknya menceritakan, “Suatu hari kepala bapakku aku letakan di pangkuanku, dia bernafas setengah-setengah. Aku menangis. Dia berkata, Apa yang membuatmu menangis, wahai puteraku? Seungguhnya Allah tidak akan mengazabku selama-lamanya. Aku yakin aku adalah penduduk surga.

Suatu kali, Rasulallah SAW telah memberinya kabar baik, dan dia beriman dengan kabar itu yaitu bahwa ia tidak akan diazab karena ia termasuk ahli surga. Nampaknya, ia ingin bertemu dengan Allah dengan mengumpulkan semua bekal yang ia punya. Ia kemudian menunjuk ke arah lemari. Kemudian lemari itu dibuka. Di dalamnya terdapat kain yang sudah sangat lusuh dan robek sana-sini. Ia meminta keluarganya untuk mengkafankannya dengan kain itu, seraya berkata, “Aku berjuang melawan orang-orang Musyrik pada perang Badr (dengan pakaian ini), dan aku menyimpannya untuk hari ini!”

Bilal bin Rabah, Sang Muadzin Nabi

Ketika Bilal didatangi kematian… Istrinya berkata, “Sungguh kami akan sangat bersedih.” Bilal membuka kain yang menutupi wajahnya, saat itu ia dalam sakratul mautnya. Dia kemudian berkata, “Jangan kau katakan demikian. Katakanlah, sungguh kami akan sangat bahagia” Kemudian dia berkata lagi, “Besok aku akan bertemu pujaanku, Muhammad SAW dan para sahabatnya.”

Abu Dzar al-Ghifari, radiallahu anhu.

Ketika Abu Dzar al-Ghifari mendekati kematiannya, istrinya menangis. Abu Dzar bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, sementara engkau mati di negeri yang tandus begini, sementara kita tidak punya kain untuk mengkafanimu”.

Dia kemudian berkata, “Tak usah bersedih. Aku beri kabar gembira untukmu. Suatu hari aku mendengar Rasulallah Saw bersabda, aku dan para sahabat lainnya ada di situ, “Di antara kalian akan ada yang mati di tempat yang tandus dan disaksikan oleh sejumlah orang-orang beriman”. Tak ada seorangpun dari para sahabat itu yang mati di padang tandus begini. Mereka meninggal di perkampungan dan di tengah-tengah masyarakat. Akulah yang akan mati di tempat tandus ini. Demi Allah, aku tidak berdusta.. tunjuki aku jalan..” Istrinya berkata, “Rombongan haji sudah berangkat, dan aku tak tahu lagi harus ke jalan mana”.

Di padang yang tandus itu, tiba-tiba ada serombongan kafilah lain yang lewat. Demi mendengar suara tangisan dari balik gubuk yang kecil, mereka berhenti dan bertanya-tanya, ada apa? Seseorang di antara mereka mengenali, subhanallah, ini Abu Dzar, sahabat Nabi yang mulia. Mereka menghentikan perjalanannya dan mengurus seluruh prosesi pemakaman Abu Dzar.

Abu Darda, radiallahu anhu.

Ketika Abu Darda menemui kematiannya, ia berkata:

Sudahkah setiap orang mempersiapkan diri untuk seperti aku saat ini? Sudahkah setiap orang mempersiapkan diri untuk seperti aku hari ini? Sudahkah setiap orang mempersiapkan diri seperti aku detik ini?

Kemudian Allah mencabut ruhnya.

Salman Al-Farisi, radiallahu anhu.

Salman al-Farisi menangis saat hendak menemui kematiannya. Ia kemudian ditanya oleh keluarganya: “Apa yang membuatmu menangis?” Ia berkata, “Rasulullah saw telah memprediksi bahwa perbekalan kita (untuk mati) seperti perbekalan orang berkendara. Sementara di sekelilingku hanya ini perbekalanku.

Ada yang berkata, “Waktu itu di sisi Salman al-Farisi ada ijanah, jafnah dan muthaharah. Ijanah adalah becana (bak) tempat dimana air dikumpulkan. Jafnah: tempat mengumpulan makanan dan air. Al-Muthaharah adalah becana (bak) tempat orang mengambil air yang suci.

Anas bin Sirrin berkata, “Anas bin Malik hadir saat Salman al-Farisi menemui kematiannya. Ia berkata, “Talqinkan aku dengan La Ilah Illa Allah, mereka tetap mengucapkan itu hingga ajal menjemputnya.”

Abdullah bin Mas’ud

Ketika Abdullah bin Mas’ud menemui kematiannya, ia memanggil puteranya: “Ya Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, aku ingin berpesan padamu tentang lima hal. Jagalah demi menjalankan pesanku ini.

Pertama: Hilangkanlah rasa putus asa dari hadapan orang banyak, sebab demikianlah kaya yang sesungguhnya.

Kedua: Tinggalkan mengemis (untuk kebutuhan/keperluan hidupmu) dari orang lain, sebab yang demikian itu adalah kemiskinan yang kau datangkan sendiri.

Ketiga: Tinggalkan hal-hal yang kau anggap tak berguna. Jangan sekali-kali sengaja kau mendekatinya.

Keempat: Jika kau mampu, janganlah sampai terjadi padamu satu hari di mana hari itu lebih tidak lebih baik dari kemarin. Usahakanlah.

Kelima: Jika engkau shalat, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Resapi dan renungkan seakan engkau tak akan shalat lagi setelah itu.


http://www.dakwatuna.com/2011/07/11674/di-atas-ranjang-kematian/

Ulasan: Semoga Alllah memudahkan kematian kita, memberikan barakahNya ke atas kematian kita dan selepas kematian kita.

Tuesday, October 11, 2011

Bercinta sebelum nikah BUKAN Sunnah Rasulullah SAW

Carilah isteri yg beragama. Mencari isteri yang beragama laksana mencari gagak putih di kalangan gagak hitam. Bercinta sebelum kahwin...hanya jalan pintas dosa. Perlukah cinta sebelum kahwin? Adakah cinta sebelum kahwin ajaran Rasulullah SAW yg perlu sangat ditegakkan? Kembalilah kepada kebenaran. Kalau hendakkan benar-benar kebahagiaan abadi SELEPAS kahwin maka ELAKKAN dosa bercinta SEBELUM kahwin. Dipersilakan bertanya Ustaz2/Ustazah2 yg ramai di kl...sebelum menyesal.

Jangan menyesal...kerana mana ada lelaki yg selamat dari fitnah wanita. Jangan diuji iman anda..kerana bila syaitan sebagai teman ketiga, sudah ramai yg kantoi dalam sepanjang sejarah manusia. 

Jilbab/Tudung: Antara Tren Dan Kewajiban

dakwatuna.com – Teringat pembicaraan bersama keluarga Om saya beberapa waktu yang lalu, saat menyaksikan gaya berpakaian wanita-wanita zaman ini di sepanjang perjalanan kami dari Cikarang ke Tangerang, kami tergelitik dengan salah satu bagian pakaian yang bernama jilbab.

Jilbab yang sebenarnya merupakan salah satu bagian pakaian wajib bagi perempuan, seperti dalam firman Allah SWT,

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).

Namun saat ini jilbab sering dialihfungsikan hanya menjadi salah satu gaya berbusana agar tampak menarik. Seperti halnya di salah satu negara tetangga yang menjadikan jilbab sebagai salah satu budaya berpakaian mereka, sepertinya yang terjadi di lingkungan kita saat ini para perempuan menjadikan jilbab hanya sebagai salah satu trend dalam berpakaian saja.

Saat ada acara keagamaan atau pada hari raya ramai-ramai memakai jilbab. Lepas dari momen itu, kembali auratnya dibiarkan diterpa angin. Tidak memandang mereka artis atau bukan, fenomena seperti ini sering kita jumpai di sekitar kita.

Dalam konteks lain, sering pula kita jumpai mereka yang memakai jilbab hanyalah untuk menutupi rambutnya yang menurut mereka sendiri kurang bagus. Namun di kesempatan lain kita dibuat tertegun saat dengan santai dan bangganya ia berjalan di depan umum dengan memamerkan rambut barunya yang baru saja direbonding. Bahkan mereka tidak menyadari tentang hukum rebounding itu sendiri dalam Islam.

Satu alasan lain wanita memakai jilbab ternyata hanya karena ia sering dipuji lebih cantik jika memakai jilbab. Sedangkan hatinya sebenarnya merasa enggan memakai jilbab. Ia memakai jilbab namun terkadang pakaian yang ia kenakan menunjukkan lekuk-lekuk tubuhnya. Hal ini oleh nabi sering disinggung sebagai “wanita yang berpakaian tapi telanjang.” Sayang sekali, karena mereka yang berpakaian ketat atau seksi sudah dijelaskan tidak akan mencium bau surga. Mencium baunya saja diharamkan, apalagi tinggal di dalamnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Dengan alasan bahwa berbagai perilaku seperti di atas masih lebih baik daripada sama sekali tidak pernah memakai jilbab atau bahkan menghalangi wanita lain untuk berjilbab, mereka seolah-olah ingin ‘mencurangi’ hukum Islam. Seharusnya setiap muslimah memahami bahwa berjilbab itu merupakan suatu kewajiban. Ia mengenakan jilbab karena benar-benar diniatkan mengharap ridha Allah. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa suatu amal itu tergantung dari niatnya.

Dari Amir Mukminin Abi Hafsh Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang akan diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Insya Allah jika segala sesuatu diniatkan karena Allah, Dzat Yang Abadi, suatu perilaku itu juga akan abadi meski banyak godaan dan hambatan untuk tetap istiqamah.

Note : Jilbab di sini lebih cenderung saya artikan sebagai kerudung/tudung karena di lingkungan kita lebih sering dipahami seperti itu. Sedangkan pengertian jilbab, kerudung, burka, dsb sudah banyak diulas di berbagai artikel.

dakwatuna.com

Fitnah Wanita

oleh: Ar-Rantasi & Khawarizmi

Allah telah menentukan bahawa ada perkara tertentu yang menarik perhatian di antara lelaki dan wanita. Dan untuk itu, Allah juga yang mengatur bentuk hubungan yang perlu dilakukan, agar di antara mereka tidak timbul perkara-perkara yang tidak diingini. Walaupun demikian, ramai juga manusia yang melanggar batas-batas tersebut sehingga mereka tertunduk malu kerana keterlanjuran yang mereka lakukan. Lelaki yang tidak mampu mengawal dirinya daripada daya tarik yang ada pada wanita, pasti mudah untuk melakukan perkara-perkara yang menjadi larangan Allah Taala. 

Apabila membicarakan tentang fitnah wanita, bukan bermakna wanita itu jahat dan sukakan keburukan. Tetapi apa yang dimaksudkan ialah keadaan mereka itu mampu menjadikan lelaki lupa daratan dan apabila usaha pencegahan tidak dilakukan, akan berlakulah perkara-perkara yang tidak diingini. Ini sudah pasti apabila lelaki yang berkenaan tidak berhati-hati. Bagaikan binatang ternak yang memakan rumput berdekatan dengan padang larangan, adalah mudah bagi binatang itu memasuki kawasan tersebut. 

Fitnah ini boleh berlaku dalam dua keadaan, iaitu sebelum kedua jenis ini berkahwin dan ketika atau selepas lelaki dan wanita ini bernikah. Sebelum bernikah, Islam menentukan adanya mahram dan yang bukan mahram. Antara lain, adalah untuk memudahkan manusia mengetahui orang yang dibolehkan mereka berhubung atau bergaul secara bebas dan yang tidak boleh berbuat demikian. Perlanggaran pada ketentuan ini akan mengakibatkan perkara mungkar yang berlaku. Kebiasaannya manusia melakukan sesuatu yang tidak baik secara berperingkat-peringkat sesuai dengan bentuk kemungkaran itu. 

Bermula dari dosa kecil seperti melihat, bercakap-cakap (berdua-duaan), berpegangan dan bersentuhan kulit dan akhirnya melakukan dosa besar. Orang yang berzina sebenarnya tidak ada harganya di sisi Allah, kecualilah dia bertaubat. Mengatasi masalah zina tidak dapat diatasi hanya dengan menyediakan rumah-rumah kebajikan bagi mereka yang telah terlanjur. Apa yang utama ialah memberi kefahaman kepada mereka tentang panduan agama dalam masalah ini dan dalam masalah kehidupan yang lain.

Islam dalam masalah ini, memperuntukkan hukuman yang berat kepada penzina, kerana mereka telah bersungguh-sungguh untuk memulakannya. Setelah berkahwin pula, seorang suami kadangkala tidak berupaya memimpin dengan baik dan sempurna. Ketenangan yang sepatut dikecapi semasa bernikah, hanya menjadi impian kosong. Bernikah dengan wanita pilihan hati rupanya tidak seindah namanya. Sebabnya ialah proses dan matlamat perkahwinan tidak menjejaki apa yang telah digariskan oleh Allah. 

Kecantikan yang menjadi dasar pilihan itu rupanya bagaikan memetik mawar yang berduri yang tidak ada wanginya yang harum. "Hai orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ." (At-Taghaabun : 14) 

Keadaan ini sebenar bukan suatu yang merendah-rendahkan wanita. Andaikata mereka mendapat pendidikan yang baik serta memahami tuntutan agama dalam perkara-perkara yang dihadapi, mereka justeru menjadi pendorong yang digigih. Sesuai dengan kejadian mereka seumpama daripada tulang rusuk yang bengkuk, kepemimpinan yang baik daripada pihak lelaki akan mampu membawa mereka ke jalan yang lurus. Jika demikian gambaran keadaan fitnah yang dihadapi melalui wanita, tentu lebih hebat keadaannya bilamana wanita itu aktif dalam perkara-perkara sumbang.

Kalau dalam masjid dan dalam rumah tangga keadaan boleh menjadi tidak tenteram kerana kurang fahamnya wanita terhadap sesuatu, tentulah lebih mencabar jikalau keadan ini digiatkan bila berada di luar masjid dan rumahtangga. Rasulullah saw pernah memberi pesanan kepada para sahabat baginda yang selalu duduk-duduk ditepi jalan agar menjaga hak-hak jalan, iaitu menjaga pandangan, tidak mengganggu orang yang lalu, menjawab salam serta melakukan pencegahan maksiat. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Said al-Khudry). 

Ini bermakna, setiap anggota masyarakat akan menerima akibatnya apabila suasana maksiat disuburkan khususnya melalui wanita-wanita jahat. Tercatit dalam sejarah Islam, bahawa ayat 1-2 Surah at-Tahrim turun disebabkan angkara isteri-isteri baginda. Ketika baginda habis meminum madu di rumah isteri baginda Saudah, dia berkata bahawa ada bau yang busuk. Begitu juga ketika baginda selesai meminum madu di rumah Aisyah, dia diberitahu bahawa ada bau yang busuk. Lalu Rasulullah saw kerana untuk menjaga hati isterinya telah berjanji untuk tidak meminum madu lagi. 

Allah lalu menurunkan firman Nya : "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu, kamu mencari kesenangan hati isteri-isteri kamu?" (at-Tahrim : 1) Perlu ditegaskan bahawa fitnah wanita tidak selalunya datang dari arah wanita itu sendiri. Bahkan selalunya godaan nafsu dalamlah yang menjadi pendorong bagi lelaki untuk mendekati wanita dan melakukan maksiat. Oleh kerana itu, wanita atau isteri bukanlah musuh yang sebenarnya yang perlu dijauhi. Perlakuan yang berlaku adalah antara dua jenis ini adalah gambaran umum tentang bentuk perhubungan yang diwujudkan.

Apabila masing-masingnya memberi perhatian yang wajar untuk sama-sama membina kebahagiaan, maka mereka akan mengecapinya dengan sempurna. Abu Hurairah ra berkata bahawa Rasulullah saw bersabda : "Sesempurna iman seseorang ialah yang paling baik budi pekertinya,dan sebaik-baik kamu ialah yang terbaik pergaulannya terhadap isterinya." (Riwayat Tirmizi). Dan dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Amru al-Ash, bahawa Rasulullah bersabda : "Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita yang solehah." (Riwayat Muslim)

Penegasan Islam tentang keadaan wanita dan potensi mereka untuk samada membangunkan atau meruntuhkan umat adalah suatu kenyataan yang perlu catitan semua pihak. Mereka perlukan bimbingan dan pimpinan yang baik.

http://www.iluvislam.com/v1/readarticle.php?article_id=1534

Friday, October 07, 2011

Who are Allah's helpers (Ansarullah)?

In order to understand its significance, it should be kept in view that Allah has taken upon Himself to persuade human beings to adopt Islam of their free will, for He does not force His will on man in those spheres of his life in which He has granted him freedom of action but likes to convince him by reason and admonition.

As it is the work of Allah to bring the people to the right way by admonition and advice, He calls those people who exert their utmost to establish Islam "His helpers and companions". This is indeed the highest position that a servant of Allah can aspire to achieve. 

For man's position is merely that of a servant when he is engaged in praying, fasting and other kinds of worship, but he is elevated to the high and unique position of God's companion and assistant when he is exerting for the establishment of the way of Allah. And this is indeed the loftiest position of spiritual attainment, to which a man can aspire in this world.

Comment: Let us be Allah's helpers. Why not?

Ref: Sayyid Abul Ala Maududi - Tafhim al-Qur'an - The Meaning of the Qur'an,Surah Al i Imran (The Family of Imran), verse 52-53. Footnote No 50. http://www.englishtafsir.com/Quran/3/index.html#sdfootnote50sym

Wednesday, October 05, 2011

Hukum bercumbuan tanpa zina

Ustaz Ahmad Adnan Fadzil  

Soalan: Assalamualaikum..saya nak tanya, apakah hukum seorang lelaki dan perempuan yang bukan muhrim bersentuhan dan bercumbuan pada pertama kali tanpa melakukan zina? Adakah dosa keterlanjuran ini sangat berat walaupun tidak berlaku zina? Apakah Allah akan mengampunkan dosanya sekiranya mereka ini telah insaf dan tidak mengulangi perbuatan ini untuk kali kedua? Saya kurang jelas tentang hal ini..

Jawapan: Perbuatan tersebut sekalipun belum berzina tetapi ia telah membabitkan pelbagai dosa dan kesalahan yang ditegah Syariat, iaitu:

1. Ia menghampiri zina. Firman Allah (bermaksud); “Dan janganlah kamu menghampiri zina” (Surah al-Isra’, ayat 32). Berkata Imam Ibnu Kathir; “Dengan ayat ini Allah menegah hamba-hambaNya dari zina, dari menghampirinya dan dari terlibat dengan segala sebab dan pendorong kepada zina” (Lihat; Tafsir Ibnu Kathir). 

2. Berdua-dua antara lelaki dan wanita bukan mahram. Sabda Nabi; “Tidak bersunyian (berdua-duaan) seorang lelaki dan seorang wanita melainkan syaitan akan menjadi yang ketiga antara mereka” (Sunan at-Tirmizi). 

3. Menyentuh bukan mahram. Sabda Nabi; “Jika kepala seseorang dari kamu ditusuk dengan jarum dari besi, itu lebih baik baginya dari ia menyentuh seorang wanita yang tidak halal untuknya” (Riwayat Imam at-Thabrani dan al-Baihaqi. Berkata al-Haithami; para perawi hadis ini adalah perawi hadis soheh. Berkata al-Munziri; para perawinya adalah tsiqah Lihat; Faidhal-Qadier, hadis no. 7216). Jika menyentuh sudah begitu hebat ancamannya, bagaimana dengan saling bersentuhan dan bercumbuan. 

4. Membuka aurat kepada bukan mahram. Firman Allah (bermaksud); “Dan janganlah mereka (perempuan-perempuan beriman) memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali kepada suami mereka, bapa mereka, bapa mertua mereka, anak-anak lelaki mereka…” (Surah an-Nur, ayat 31). Di dalam hadis, Rasulullah bersabda kepada orang lelaki; “Jagalah aurat kamu kecuali kepada isteri kamu atau hamba perempuan yang kamu miliki” (HR Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, an-Nasai dan at-Tirmizi. Menurut Imam at-Tirmizi; hadis ini hasan. Lihat hadis ini dalam al-Jami’ as-Saghier, hadis no. 264) 

5. Tidak menjaga pandangan mata. Firman Allah; “Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram) dan memelihara kemaluan mereka…. Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kemaluan mereka” (Surah an-Nur, ayat 30-31). 

5. Melepaskan nafsu seks mengikut jalan yang haram. Di dalam al-Quran Allah menyebutkan di antara sifat orang beriman ialah; “Mereka yang menjaga kemaluan mereka, kecuali kepada isteri mereka atau hamba sahaya mereka, maka sesungguhnya mereka tidaklah tercela. Maka sesiapa yang mengingini selain dari yang demikian itu, maka mereka adalah orang-orang yang melampaui batas” (Surah al-Mukminun, ayat 5-7). Perhatikan Allah menegaskan “sesiapa mengingini selain dari yang demikian itu” (yakni mencari jalan untuk melepaskan nafsu selain kepada isteri dan hamba sahaya) mereka adalah orang yang melampau batas. Dengan ayat ini Imam as-Syafiie menegaskan; Haram mengeluarkan mani dengan tangan (yakni melakukan onani) kerana ia termasuk melepaskan nafsu bukan kepada isteri atau hamba sahaya (Lihat; Tafsir Ibnu Kathir). Jika melepaskan nafsu secara sendirian sudah dianggap haram, apatahlagi jika membabitkan pasangan yang bukan mahram, maka lebih-lebih lagilah haram. 

Orang yang melakukan perbuatan sedemikian wajiblah ia segera bertaubat kepada Allah. Pintu taubat sentiasa dibuka oleh Allah dengan syarat ia benar-benar bertaubat nasuha iaitu dengan melaksanakan rukun-rukun taubat berikut;

1. Meninggalkan maksiat tersebut sepenuhnya. 
2. Menyesali ketelanjuran lalu dengan sesungguh hati. 
3. Bertekad tidak akan mengulangi lagi. 

Sebagai bukti kejujuran taubatnya, ia hendaklah mengubah hidupnya dari suasana maksiat kepada suasana taat (menjaga ibadah terutamanya solat, menjauhi pergaulan luar batasan antara lelaki dan wanita, bergaul dengan orang-orang soleh, mendampingi masjid dan majlis ilmu, menanamkan rasa takut kepada Allah dan balasan di akhirat). Hanya dengan berada dalam suasana ketaatan sahaja kita dapat memelihara diri dari terjerumus ke dalam maksiat. Di dalam hadis, Rasulullah bersabda; “Seseorang manusia itu berada di atas agama teman rapatnya. Maka hendaklah setiap dari kamu memerhati dengan siapa ia berteman” (HR Imam at-Tirmizi dan Abu Daud dari Abu Hurairah. Menurut as-Suyuti; hadis ini hasan. Lihat; al-Jami’ as-Saghier, hadis no. 4516)

Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.islamituindah.my

Friday, July 29, 2011

Pesan Dari Tafsir Al-Quran

Seseorang itu mestilah bergantung kepada KEBENARAN. Bukannya kebenaran bergantung kepada diri seseorang. 

Dari Tafsir Al-Quran Di Radio, Sheikh Ahmad Sonhadji Mohamad (1992). KL: Pustaka Al-Mizan. Surah Luqman : Ayat 21. ms 151.

Wednesday, July 20, 2011

Pesan Syeikh Hamka kepada kita 4

Syaitan adalah musuh turun-temurun kita. Jangan berkompromi dengannya. Sentiasalah awas dan waspada. Janganlah lalai. Janganlah lengah. Tidaklah ada sesuatu ajakan syaitan pun yg akan mengajak kita masuk syurga.

Rujuk: Tafsir Al-Azhar, Prof Dr Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (Hamka), 1988. PT Pustaka Panjimas : Jakarta. Juzuk 22, Surah Fathir : Ayat 6, muka surat 213.

Tuesday, July 12, 2011

Alasan sebenar sebalik konflik Palestin-Israel

Alasan sebenarnya disebalik konflik Palestin-Israel adalah bahawa Israel tidak adil dan zalim menghukum orang Palestin kerana Holocaust Yahudi semasa Perang Dunia II.

Israel tidak adil menghukum orang Palestin untuk Holocaust Yahudi semasa Perang Dunia II. Amerika dan Eropah telah mengeksport konflik yang dicipta oleh pemimpin Jerman, Adolf Hitler ke Palestin. Para warga Palestin TIDAK PERNAH bertanggung jawab dan TIDAK PERLU membayar untuk kejahatan orang lain.

Punca: http://www.ikhwanweb.com/article.php?id=28583

The real reason behind the Palestinian-Israeli conflict

The real reason behind the Palestinian-Israeli conflict was that Israel was unjustly punishing the Palestinians for the Jewish Holocaust during World War II.

Israel was unjustly punishing the Palestinians for the Jewish Holocaust during World War II. The Americans and Europeans exported the conflict created by German leader Adolf Hitler to Palestine. The Palestinians were NEVER responsible and should not pay for others’ crimes. 

Source: http://www.ikhwanweb.com/article.php?id=28583

Berdakwah Melalui Internet, Perlukah?

Berdakwah Lewat Internet, Perlukah? 

Internet adalah jaringan informasi komputer mancanegara yang berkembang sangat pesat dan pada saat ini dapat dikatakan sebagai jaringan informasi terbesar di dunia.[1]

Sepuluh tahun yang lalu, tidak semua orang mengenal internet, walaupun ia tinggal di kota besar. Pengguna internet di Indonesia pun hanya berjumlah dua juta pengguna. Selaras dengan kebutuhan/keperluan informasi yang efisien, lambat laun masyarakat Indonesia mulai merasakan manfaat dari internet. Bahkan, internet telah menyentuh seluruh aspek kehidupan bangsa Indonesia. Kini, jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 20 juta. Selain itu, Indonesia juga tercatat sebagai negara pengguna internet terbesar ke-15 di dunia dan ke-5 di Asia.[2] 

Sebagai da’i kita harus bisa melihat setiap peluang dakwah yang ada. Perkembangan teknologi informasi ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh insan yang berdakwah di jalan Allah. Jangan sampai kecanggihan teknologi justru dimanfaatkan oleh musuh-musuh Allah, sedangkan para pendakwah hanya memfokuskan diri di masjid-masjid, tanpa melebarkan sayap dakwahnya.

Ketahuilah wahai du’at, dakwah di jalan Allah adalah perbuatan yang sangat mulia dan ibadah yang agung kedudukaannya di mata Allah.

Allah SWT berfirman :“Dan siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebaikan dan berkata, ” Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (QS. Fushshilat 33).

Menurut Ahmad Mushtafa al-Maroghi maksud dari ayat ini adalah :

1. Mengajak kepada tauhid dan mentaati Allah.

2. Mengajak untuk beramal shalih dan menjauhi yang diharamkan Allah.

3. Menjadikan Islam sebagai agama dan ikhlas kepada tuhan-Nya.[3]

Yang harus kita ingat, apabila dakwah mengajak manusia ke jalan Allah merupakan kedudukan yang mulia dan utama bagi seorang hamba, maka hal itu tidak akan terlaksana kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu, seseorang dapat berdakwah dan kepada ilmu ia berdakwah. Bahkan demi sempurnanya dakwah, ilmu itu harus dicapai sampai batas usaha yang maksimal. [4]

Sebelum memulai dakwah di dunia maya, setiap da’i hendaknya menuntut ilmu syar’i terlebih dahulu. Bila mereka tidak mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman salaf, bagaimana mereka dapat menyampaikan kebenaran pada umat? Oleh karena itu, membaca Al-Qur’an, mempelajari hadits, menghadiri majelis ilmu, membaca kitab-kitab para ulama merupakan aktivitas yang seharusnya rutin dilakukan oleh du’at sebagai bekal dalam berdakwah.

Lalu, apakah kelebihan internet? Mengapa kita harus memanfaatkannya untuk berdakwah? Ternyata, internet memiliki beberapa keistimewaan yang akan memudahkan proses dakwah, diantaranya:

1. Tidak terhalang oleh ruang dan waktu

Internet dapat diakses kapanpun dan oleh siapapun di berbagai penjuru dunia sehingga materi dakwah yang telah kita masukkan di internet dapat diakses oleh semua orang di berbagai penjuru dunia kapanpun mereka inginkan.

2. Dakwah menjadi lebih variatif

Selain tulisan, kita dapat membuat materi dakwah dalam bentuk gambar, audio, e-book(buku elektronik) ataupun video sehingga objek dakwah dapat memilih bentuk media yang disukai.

3. Jumlah pengguna internet semakin meningkat

Pertumbuhan pengguna internet yang selalu meningkat merupakan kabar baik bagi du’at yang akan berdakwah di dunia maya, karena objek dakwah pun akan semakin bertambah.

4. Hemat biaya dan energi

Dengan menyajikan materi dakwah di internet, objek dakwah tidak perlu datang ke narasumber dan membeli buku untuk menjawab masalah yang dihadapi. Sehingga kita bisa membantu saudara kita agar tidak mengeluarkan biaya dan tenaga ekstra untuk memperoleh informasi syar’i yang mereka cari.

Saudaraku yang kucintai karena Allah, sebagai juru dakwah tugas kita hanyalah menyampaikan, memperingati, dan mengajak manusia kepada kebenaran, sedangkan hidayah mutlak milik Allah. Jangan kecewa ketika hasil yang kita harapkan tidak sesuai dengan yang kita harapkan, 
sebagaimana firman-Nya :“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” 
(QS. Qashash:56)

Sesungguhnya kamu tidak akan bisa memberi petunjuk terhadap orang yang kamu cintai dari kaummu atau selain mereka. Jika kamu mengerahkan seluruh kemampuanmu maka kamu tidak akan mampu. Sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan dan Allah akan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki karena Allah memiliki hikmah yang matang dan hujjah yang tidak bisa dibantah.[5]

Mari berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan! “… Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. ” (QS. Al-Baqarah: 148)

Wahai saudaraku!

Jika kamu menjumpai kekurangan, maka tutuplah celanya. Mahaagung Dzat yang tidak memiliki aib dan Mahatinggi.

Wallahu’alam Bishshawab

Sumber :

1. http://www.elektroindonesia.com/elektro/no3b.html

2. http://www.internetworldstats.com/top20.htm

3. Tafsir Maraaghi (VIII/365-366), DAR al- KOTOB al-ILMIYAH Beirut 1997-1418

4. Miftaah Daaris Sa’aadah (I/476), ta’liq dan takhrij : Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin Abdul Hamid.

5. Tafsir Maraaghi VII/173, DAR al- KOTOB al-ILMIYAH Beirut 

http://abufarras.blogspot.com/2011/04/berdakwah-lewat-internet-perlukah.html

Ikhtilath dan Hijab Syar'i

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Ustadz yang dirahmati Allah, saya ingin bertanya tentang apa yang dimaksud dengan ikhtilath dan hijab syar'i?

Lalu bila kami mengadakan ta'lim yang diikuti muslimin dan muslimah apa harus dibatasi dengan kain?

Apakah boleh bila dibatasi dengan pembatas yang ada celah-celahnya?

 JazakAllah Ustadz, atas jawabannya

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Abdullah


Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Perihal ikhtilath atau percampuran antara kaum pria dan wanita didalam suatu kesempatan seringkali kita dapati di masyarakat dan berbagai pendapat pun bermunculan didalam permasalahan ini dari yang sama sekali tidak memperbolehkannya secara mutlak hingga yang membolehkannya juga secara mutlak.

Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan bahwa pada zaman Rasulullah saw dan para Khulafaur Rasyidin tampak kaum wanita melakukan sholat berjama’ah dan jum’at di Masjid Rasul saw. Beliau saw juga menganjurkan mereka agar mencari shaff di bagian akhir di belakang kaum pria. Setiap shaff yang lebih dekat dengan bagian terakhir adalah lebih utama dikarenakan khawatir akan tampak aurat kaum pria terlebih lagi kebanyakan mereka tidak menggunakan celana panjang.. dan tidak ada pembatas antara kaum pria dan wanita baik pembatas yang terbuat dari kayu, kain atau yang lainnya.

Pada awalnya kaum pria dan wanita masuk dari pintu mana saja yang disepakati bagi mereka sehingga tampak padat saat memasuki dan keluar dari masjid. Rasulullah saw bersabda,”Seandainya saja kalian menjadikan satu pintu bagi kaum wanita.” Kemudian mereka pun mengkhususkan satu pintu bagi kaum wanita setelah itu yang saat ini dikenal dengan nama “Pintu Wanita”

Kaum wanita pada masa Nabi saw juga menghadiri sholat jum’at, mendengarkan khutbah sehingga salah satu dari mereka berhasil menghafalkan surat Qaff dari lisan Rasulullah saw dikarenakan sering mendengarnya dari atas mimbar jum’at.

Kaum wanita juga menghadiri sholat dua hari raya, pertemuan-pertemuan besar islami yang mengumpulkan orang-orang dewasa dan anak-anak, kaum pria dan wanita di suatu tanah lapang sambil bertahlil dan bertakbir. Diriwayatkan oleh Muslim dari Ummu ‘Athiyah berkata,”Kami diperintahkan untuk keluar pada waktu dua hari raya, dengan menutup aurat dan juga para perawannya.”..

Dahulu kaum wanitanya juga menghadiri berbagai pengajaran bersama dengan kaum pria. Mereka bertanya tentang berbagai permasalahan agama yang sering dirasakan malu oleh kebanyakan wanita pada hari ini sehingga Aisyah pernah memuji para wanita Anshor bahwa mereka tidak dihalangi oleh rasa malu untuk mengetahui perihal agama mereka, seperti tentang junub, bermimpi, mandi, haidh, istihadhoh dan lain-lain.

Mereka merasa belum cukup mendapatkan pengajaran bersama kaum laki-laki dalam berdialog dengan Rasulullah saw, untuk itu mereka meminta agar beliau menyediakan waktu (hari) khsusus bagi mereka yang tidak didominasi dan bersama-sama kaum pria. Mereka mengatakan secara terang-terangan,”Wahai Rasulullah kami telah dikalahkan oleh kaum laki-laki saat bersamamu maka jadikanlah bagi kami satu hari dari dirimu.” (HR. Bukhori)

Kaum wanita pernah ikut serta dalam peperangan membantu para tentara dan mujahidin dalam hal-hal yang mereka sanggupi dan pada posisi yang tetap baik bagi mereka, seperti memberikan perawatan, pengobatan, menjaga mereka yang terluka disamping bantuan-bantuan lainnya seperti menyediakan konsumsi dan berbagai peralatan yang dibutuhkan oleh para mujahidin.

Dari Ummu ‘Athiyah berkata,”Aku pernah berperang bersama Rasulullah saw sebanyak tujuh kali peperangan. Aku berada di bagian belakang saat berjalan, aku mempersiapkan makanan bagi mereka, mengobati yang terluka dan membantu yang sakit.” (HR. Muslim)

Bahkan pernah para wanita (sahabat) ikut serta didalam berbagai peperangan dan pertempuran islam dengan membawa senjata saat ada kesempatan bagi mereka. Seperti apa yang dilakukan ‘Amaroh Nusaibah binti Ka’ab pada peperangan Uhud sehingga Rasulullah saw mengatakan tentangnya,”Posisinya lebih baik dari posisi fulan dan fulan.” Demikian juga apa yang dilakukan Ummu Sulaim yang memegang sebilah pisau yang akan ditusukan terhadap musuh manakala ia mencoba mendekatinya pada saat perang Hunain.

Kaum wanita pun berpartisipasi didalam kehidupan sosial sebagai seorang da’i yang mengajak kepada kebaikan, menyeru yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, sebagaimana firman Allah swt :

Artinya : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar.” (QS. At Taubah : 71)

Ada suatu peristiwa yang sudah masyhur saat seorang wanita muslimah menentang Umar di masjid tentang permasalahan mahar sehingga beliau mengambil pendapat wanita tersebut dengan mengatakan,”Wanita ini benar dan Umar salah.” Dan peristiwa ini disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsir surat An Nisaa serta mengatakan bahwa sanadnya baik. Umar juga pernah menunjuk Syifa binti Abdullah al Adawiyah sebagai bendahara pasar.

Jadi pertemuan antara kaum pria dan wanita tidaklah diharamkan bahkan dibolehkan dan menjadi tuntutan selama untuk tujuan yang mulia, berupa mencari ilmu yang bermanfaat, amal sholeh, proyek kebaikan, jihad yang wajib atau yang lainnya selama didalam hal itu membutuhkan/memerlukan kerjasama diantara dua jenis tersebut didalam perencanaan, pengarahan dan pengimplementasian.

Namun bukan berarti bahwa hal itu melenyapkan batasan-batasan diantara kedua jenis tersebut serta melupakan rambu-rambu syari’ah pada setiap pertemuan diantara mereka… Diantara rambu-rambunya adalah :

1. Berkomitmen untuk senantiasa menjaga pandangan dari kedua belah pihak. Tidak melihat aurat, tidak memandangnya dengan syahwat, tidak melamakan pandangan tanpa suatu keperluan, firman Allah swt : 

Artinya : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An Nuur : 30 – 31)

2. Para wanitanya berkomitmen dengan pakaian yang sesuai syari’ah (hijab syar’i) serta menjaga malu. Pakaian yang menutup seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan, tidak transparan dan tidak ketat.. 

Artinya : “Dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.” (QS. An Nuur : 31)

3. Komitmen dengan adab-adab Islam khususnya dalam bermuamalah dengan kaum pria :
a. Dalam berbicara hendaknya menghindari perkataan-perkataan yang mengarah kepada godaan atau rangsangan, firman Allah swt :

Artinya : “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah Perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab : 32)

b. Dalam berjalan, sebagaimana firman Allah swt : 

Artinya : “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nuur : 24)

Artinya : “kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan.” (QS. Al Qoshosh : 25)

c. Dalam bergerak; tidak berlenggak-lenggok seperti wanita-wanita yang disebutkan didalam hadits,”Wanita-wanita yang berlenggak-lenggok kesana kemari.” Serta menghindari dari berhias seperti hiasan wanita-wanita jahiliyah pertama atau pun terakhir.

4. Menghindari segala sesuatu yang dapat menggoda atau merangsang seperti minyak wangi, warna-warna perhiasan yang seharusnya digunakan di rumahnya bukan di jalan atau di tempat pertemuan dengan kaum pria.

5. Berhati-hati untuk tidak terjadi kholwat (berdua-duaan) antara pria dan wanita yang tidak ada mahramnya, sebagaimana larangan didalam hadits-hadits tentang itu, seperti : “Sesungguhnya yang ketiganya adalah setan.” Jadi tidak boleh adanya kholwat diantara ‘api’ dan ‘kayu bakar’. Terlebih lagi apabila kholwat terjadi dengan kaum kerabat dari suami.

6. Hendaklah pertemuan tersebut untuk sesuatu keperluan yang mengharuskan adanya kerja sama (diantara kaum pria dan wanita) tanpa berlebih-lebihan atau terlalu melapangkan wanita keluar dari fitrah kewanitaannya, menjadikannya sebagai bahan pembicaraan orang, menghambatnya dari kewajibannya yang mulia berupa mengurus rumah tangga dan mendidik generasi (anak-anak). (www.qaradawi.net)

Adapun tentang pembatas yang membatasi antara kaum pria dan wanita dengan menggunakan kain, kayu dan lainnya bukanlah menjadi suatu kewajiban. Yang demikian dikarenakan bahwa pada masa Rasulullah saw dan para sahabat tidak ditemukan hal seperti itu. Akan tetapi mereka tetap bisa menjaga diri untuk tidak terjadi kholwat antara orang yang menyampaikan pengajaran dengan kaum wanita yang mendengarkannya.

Akan tetapi apabila dikhawatirkan terjadi fitnah antara para peserta pria dan wanita didalam pertemuan-pertemuan besar seperti pernikahan, tabligh bulanan, rapat umum di tempat yang luas atau yang lainnya dan juga apabila kaum wanitanya ditempatkan bersebelahan dengan tempat duduk khusus kaum prianya maka menggunakan pembatas diantara mereka adalah lebih baik dan lebih utama.

Wallahu A’lam

http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/ikhtilath-dan-hijab-syar-i.htm

Allah's Pharmacy

“Allah is All-Knowing All-Wise"…Quran

A sliced Carrot looks like the human eye The pupil, iris and radiating lines look just like the human eye...and YES science now shows that carrots greatly enhance blood flow to and function of the eyes.

A Tomato has four chambers and is red. The heart is red and has four chambers. All of the research shows tomatoes are indeed pure heart and blood food.

Grapes hang in a cluster that has the shape of the heart. Each grape looks like a blood cell and all of the research today shows that grapes are also profound heart and blood vitalizing food .

A Walnut looks like a little brain, a left and right hemisphere, upper cerebrums and lower cerebellums. Even the wrinkles or folds are on the nut just like the neo-cortex. We now know that walnuts help develop over 3 dozen neuron-transmitters for brain function.

Kidney Beans actually heal and help maintain kidney function and yes, they look exactly like the human kidneys .

Celery, Bok Choy, Rhubarb and more look just like bones. These foods specifically target bone strength. Bones are 23% sodium and these foods are 23% sodium. If you don't have enough sodium in your diet the body pulls it from the bones, making them weak. These foods replenish the skeletal needs of the body.

Eggplant, Avocadoes and Pears target the health and function of the womb and cervix of the female - they look just like these organs. Today's research shows that when a woman eats 1 avocado a week, it balances hormones, sheds unwanted birth weight and prevents cervical cancers. And how profound is this? .... It takes exactly 9 months to grow an avocado from blossom to ripened fruit. There are over 14,000 photolytic chemical constituents of nutrition in each one of these foods (modern science has only studied and named about 141 of them).

Figs are full of seeds and hang in twos when they grow. Figs increase the motility of male sperm and increase the numbers of Sperm cells to overcome male sterility.

Grapefruits, Oranges, and other Citrus fruits look just like the mammary glands of the female and actually assist the health of the breasts and the movement of lymph in and out of the breasts .

Onions look like body cells. Today's research shows that onions help clear waste materials from all of the body cells They even produce tears which wash the epithelial layers of the eyes.

Sweet Potatoes look like the pancreas and actually balance the glycemic index of diabetics.

Olives assist the health and function of the ovaries

Then which of the favours of your Allah will ye deny? - [Quran 55:13]

Milk :
The Prophet(SAW) said that milk wipes away heat from the heart
just as the finger wipes away sweat from the brow. It strengthens the back,
increases the brain, augments intelligence,renews vision and drives away
forgetfulness.

Honey :
Considered to be the best remedy for diarrhea when mixed in hot
water. It is the food of foods, drink of drinks and drug of drugs. It is used
for creating appetite,strengthening the stomach, eliminating phlegm,
as a meat preservative,hair conditioner, eye salve and mouthwash. It is
extremely beneficial in the morning in warm water and is also a sunnah.

Olive oil :
excellenent treatment for skin and hair, delays old age, treats inflammation
of the stomach

Mushroom :
The Prophet(SAW) said that mushroom is a good cure for the eyes, it also
serves as a form of birthcontrol and arrests paralysis.

Grapes :
The Prophet was very fond of grapes, it purifies the blood, provides vigour
and health, strengthens the kidneys and clears the bowels.

Dates :
The Prophet(SAW) said that a house without dates has no food, also to be
eaten at the time of childbirth.

Figs :
It is a fruit from paradise and a cure for piles.

Barley :
Good for fever in a soup form

Melon :
Melon contains 1000 blessings and 1000 mercies, The prophet SAW said "None
of your women who are pregnant and eat of water melon will fail to produce
off spring who are good in countenance and good in character.

Pomegranate :
The Prophet(SAW) said it cleanse you of Satan and evil aspirations for 40
days.

Water :
the Prophet(SAW) said the best drink in this world and the next is Water, when you are thirsty drink it by sips and not gulps, gulping produces sickness of the liver.

So praise be to our beloved Nabi(SAW) who produced us with marvelous knowledge which dazzles the wisest minds. May this information be beneficial to all of us Insha-Allah 

http://www.islamcan.com/allahs-pharmacy.shtml

Wednesday, July 06, 2011

2 Golongan Yang Akan Menjadi Penghuni Neraka

Hadith ke 15 – Dua Golongan Yang Akan Menjadi Penghuni Neraka

Daripada Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah saw bersabda :”Ada dua golongan yang akan menjadi penghuni neraka yang belum lagi aku melihat mereka. Pertama, golongan (penguasa) yang mempunyai cemeti-cemeti bagaikan ekor lembu yang digunakan untuk memukul orang. Kedua, perempuan yang berpakaian tetapi bertelanjang, berlenggang-lenggok waktu berjalan, menghayun-hayunkan bahu. Kepala mereka (sanggul di atas kepala mereka) bagaikan bonggol (goh) unta yang senget. Kedua-dua golongan ini tidak akan masuk syurga dan tidak akan dapat mencium bau wanginya. Sesungguhnya bau wangi syurga itu sudah tercium dari perjalanan yang sangat jauh daripadanya.” (Hadith Riwayat Muslim) 

Keterangan : 

Kebenaran sabdaan Rasulullah saw ini dapat kita lihat dari realitimasyarakat yang ada pada hari ini.

Ada golongan yang suka memukul orang dengan cemeti tanpa soal siasat, bertindak kepada manusia dengan hukum rimba.

Dan ramai perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi bertelanjang. Maksudnya, kalau kita hendak katakan berpakaian pun boleh, kerana masih ada secarik kain di atas badan dan kalau kita hendak katakan bertelanjang pun boleh kerana walaupun berpakaian tetapi hanya dengan secarik kain sahaja, maka samalah dengan bertelanjang. Atau pun ia berpakaian dengan pakaian yang sangat tipis sehingga menampakkan warna kulit dan mencorakkan bentuk aurat. Kemudian berjalan sambil menghayun-hayunkan badan dengan sanggul yang besar seperti goh unta. 

Kedua-dua golongan ini tidak akan masuk syurga dan tidak dapat mencium bau wanginya, walaupun semerbak wanginya telah tercium dari jarak perjalanan selama 500 tahun sebelum sampai kepadanya. 

Kitab rujukan : 40 Hadith Peristiwa Akhir Zaman (Abu Ali Al-Banjari An-Nadwi) terbitan Khazanah Banjariah 

Sumber: http://www.mymasjid.net.my/koleksi-artikel/display/740/2-golongan-yang-akan-menjadi-penghuni-neraka/

Semoga dapat kita amalkan dan sampaikan kepada orang lain.

Bukan seni utk seni…

Bukan seni utk seni...tapi seni utk iman - Kiyai Zainuddin MZ dlm sebuah ceramahnya. http://www.youtube.com/watch?v=Unrrc3IKs8I&feature=related

Pesan Syeikh Hamka kepada kita

Taqwa kepada Allah hendaknya usaha sendiri-sendiri. Jangan menggantungkan harapan kerana bertali kekeluargaan dengan orang lain, walaupun dengan ayah, walaupun dengan anak.

Tidaklah kamu akan lama tinggal di sini. Meskipun engkau mendapat kedudukan yang baik pada zahirnya dalam dunia ini, namun jika tidak ada bekal taqwa kepada Allah untuk dibawa ke akhirat, percumalah kemegahan dunia.

Sumber: Tafsir Al-Azhar, Prof Dr Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (Hamka), 1988. PT Pustaka Panjimas : Jakarta. Juzuk 21, Surah Luqman : Ayat 33, muka surat 149 & 150.

Semoga kita boleh mengamakannya dan menyampaikan kepada orang lain.

Friday, July 01, 2011

Bentuk Busana Muslimah Yang Sebenar

Bentuk Busana Muslimah Yang Benar

Assalamualaikum wr wb

Ustadz Sigit yang dirahmati Allah,

Saya ingin menanyakan tentang bentuk busana muslimah yang benar, apakah harus berbentuk baju kurung atau tetap benar jika bentuknya terputus (baju dan rok tapi lebar). Karena saya pernah mendengar pembahasan mengenai pakaian wanita yang benar hanya yang model baju kurung dan jika bentuknya terputus tidak memenuhi perintah syar`i.

Terima kasih.

yulia

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Yulia yang dimuliakan Allah SWT.

Dibolehkan bagi seorang wanita muslimah mengenakan pakaian atas-bawah (baju dan rok lebar) selama pakaian itu memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan syariat.
Diantara syarat-syarat itu adalah :

1. Hendaknya pakaian itu menutupi seluruh tubuhnya dari kaum lelaki yang bukan mahramnya. Dan janganlah dia memperlihatkan anggota-anggota tubuhnya kepada mahramnya kecuali bagian-bagian yang dibolehkan oleh syariat, seperti wajah, kedua telapak tangan dan kedua pergelangan kakinya.

2. Hendaknya pakaian itu tidak tipis (transparent) sehingga warna kulitnya dapat terlihat oleh orang dibelakangnya.

3. Pakaian itu tidak sempit sehingga menampakkan bentuk-bentuk anggota tubuhnya.

4. Pakaian itu tidak menyerupai pakaian kaum lelaki.

5. Tidak terdapat berbagai hiasan di pakaian itu yang dapat mengundang perhatian orang-orang ketika dirinya keluar dari rumah. (Markaz al Fatwa No. 0428).

(Baca: Pakaian Muslimah Sesuai Syariat)

Wallahu A’lam.

http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/bentuk-busaba-muslimah-yang-benar.htm

Thursday, June 16, 2011

Tales of the Alhambra

In its golden age Islamic Spain was among the MOST CIVILISED places on the PLANET – renowned for its scientists and philosophers, artists and architects, poets and musicians. In the matter of religion, Islamic sultans generally TOLERATED and PROTECTED Jews and Christians (From: Tales of the Alhambra by Cullen Murphy, Reader’s Digest, page 102, June 2002).

Comment: Allah said in Holy Quran: “It is the men of knowledge who can truly realise God.” (Holy Quran, 35:28). To inculcate this importance of knowledge in the minds of the believers, the Prophet once observed that “the worship of a learned man is a thousand times better than that of the ignorant worshipper.” By way of encouraging reflection on the universe and nature in order to explore divine glories, the Prophet is reported to have said: “An hour of reflection is better than a hundred years of worship without reflection.” (Al-Bayhaqi). And lastly, Allah said in Holy Qur'an: "Let there be no compulsion in religion: Truth stands out clear from Error... (Holy Qur'an, 2 : 256). 

Sources: 

Tales of the Alhambra by Cullen Murphy, Reader’s Digest, page 102, June 2002. 

http://www.cpsglobal.org/content/importance-learning-quran

http://www.missionislam.com/discover/compulsion.htm




Wednesday, June 01, 2011

13 Aurat Wanita

Tiga belas aurat wanita 

1. Bulu kening - Menurut Bukhari, Rasullulah melaknati perempuan yang mencukur atau menipiskan bulu kening atau meminta supaya dicukurkan bulu kening - Petikan dari Hadis Riwayat Abu Daud Fi Fathil Bari.

2. Kaki memakai gelang berloceng - Dan janganlah mereka (perempuan) menghentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan - Petikan dari S ura h An-Nur Ayat 31. Keterangan : Menampakkan kaki dan menghayunkan/melenggokkan badan mengikut hentakan kaki terutamanya pada mereka yang mengikatnya dengan loceng sama juga seperti pelacur dizaman jahiliyah .

3. Wangian - Siapa sahaja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zinanya terutamanya hidung yang berserombong kapal kata orang sekarang hidung belang - Petikan dari Hadis Riwayat Nasaii, Ibn Khuzaimah dan Hibban. 

4. Dada - Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain tudung hingga menutupi bahagian hadapan dada-dada mereka - Petikan dari Surah An-Nur Ayat 31.

5. Gigi - Rasullulah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikirkan giginya - Petikan dari Hadis Riwayat At-Thabrani, Dilaknat perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik, yang merubah ciptaan Allah - Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.

6. Muka dan leher - Dan tinggallah kamu (perempuan) di rumah kamu dan janganlah kamu menampakkan perhiasan mu seperti orang jahilliah yang dahulu. Keterangan : Bersolek (make-up) dan menurut Maqatil sengaja membiarkan ikatan tudung yang menampakkan leher seperti orang Jahilliyah.

7. Muka dan Tangan - Asma Binte Abu Bakar telah menemui Rasullulah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasullulah: Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja - Petikan dari Hadis Riwayat Muslim dan Bukhari.

8. Tangan - Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya - Petikan dari Hadis Riwayat At Tabrani dan Baihaqi.

9. Mata - Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukkan sebahagian dari pemandangannya - Petikan dari Surah An Nur Ayat 31.
Sabda Nabi Muhamad SAW, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pandangan yang pertama sahaja manakala pandangan seterusnya tidak dibenarkan hukumnya haram - Petikan dari Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi.

10. Mulut (suara) - Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada perasaan serong dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik - Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 32.
Sabda SAW, Sesungguhnya akan ada umat ku yang minum arak yang mereka namakan dengan yang lain, iaitu kepala mereka dilalaikan oleh bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi perempuan, maka Allah akan tenggelamkan mereka itu dalam bumi - Petikan dari Hadis Riwayat Ibn Majah.

11. Kemaluan - Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka - Petikan dari Surah An Nur Ayat 31.

Apabila seorang perempuan itu solat lima waktu, puasa di bulan Ramadan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka masuklah ia ke dalam Syurga daripada pintu-pintu yang ia kehendakinya - Hadis Riwayat Riwayat Al Bazzar.

Tiada seorang perempuanpun yang membuka pakaiannya bukan di rumah suaminya, melainkan dia telah membinasakan tabir antaranya dengan Allah - Petikan dari Hadis Riwayat Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn Majah.

12. Pakaian - Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan terutama yang menjolok mata , maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan di hari akhirat nanti - Petikan dari Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud , An Nasaii dan Ibn Majah.Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 59.

Bermaksud : Hai nabi-nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka memakai baju jilbab (baju labuh dan longgar) yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali . Lantaran itu mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sesungguhnya sebilangan ahli Neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk Syurga dan tidak akan mencium baunya -Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim. Keterangan : Wanita yang berpakaian tipis/jarang, ketat/ membentuk dan berbelah/membuka bahagian-bahagian tertentu.

13. Rambut - Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam Neraka adalah mereka itu di dunia tidak mahu menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya - Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim?.

http://www.one-ummah.net/kuliah/feqah/642-tiga-belas-aurat-wanita.html



Larangan berkhalwat untuk elak zina

Rasulullah s.a.w. dalam hadis daripada Uqbah bin Amir menyebut bahawa Nabi s.a.w. bersabda: “Maka jangan sekali-kali seorang lelaki bersendirian dengan seorang perempuan yang bukan mahramnya kerana yang ketiga ialah syaitan." (Riwayat Al-Imam At-Tirmidzi) 

Mungkin ramai yang tidak tahu mengapa Rasulullah melarang lelaki berkhalwat dengan wanita. Mungkin pada mereka larangan itu menyekat kebebasan hak asasi mereka. Sebab itu ada yang berkata, pertemuan itu hanya sekadar bualan biasa, tidak lebih daripada itu. Tetapi sebenarnya Rasulullah sendiri sudah memberi jawapan yang jelas, iaitu tatkala mereka berduaan akan ada syaitan di antara keduanya. Syaitan yang sifatnya suka menggoda, akan meniupkan rangsangan seks wanita dan kemudiannya lelaki. Rangsangan syaitan itu lambat laun akan berhasil dan ketika itu pasti berlaku perzinaan. Tetapi jika antara mereka ada orang ketiga tentu pasangan itu akan merasa malu untuk melakukan zina itu. Sebab itu bagi menyelamatkan keadaan Rasulullah menyarankan pasangan itu berteman orang yang ketiga seperti sabdanya yang bermaksud:

"Tidak halal bagi seseorang lelaki berkhalwat dengan seseorang wanita yang tidak halal buatnya kecuali ditemani mahram (mahram-orang yang diharamkan nikah/kahwin dengannya. Maka orang atau pihak ketiga yang ada bersama-sama ketika mereka berdua berkhalwat itu adalah syaitan". (sila rujuk buku Fiqh As-Sunnah oleh Syed Sabiq).

Sebenarnya larangan berduaan di tempat yang mencurigakan dan sebaliknya digalakkan bertiga dalam sesuatu pertemuan adalah untuk merealisasikan perintah Allah dalam firman-Nya yang bermaksud:

"Dan janganlah kamu menghampiri zina sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat yang membawa kerosakan." (Surah al-Isra' :32)

Jelas dalam ayat di atas Allah tidak melarang berzina secara langsung tetapi melarang umat Islam menghampir perbuatan zina. Bayangkan kalau menghampiri zina tidak berlaku, bolehkah berlaku perzinaan? Sudah pasti tidak berlaku zina. Jadi, larangan menghampiri zina itu merujuk kepada larangan berkhalwat, pergaulan bebas dan seumpamanya.

Undang-undang Jenayah Syariah

Umat Islam yang memahami perintah Allah dalam al-Quran dan larangan Rasul dalam hadis di atas, pasti tidak tergamak untuk melakukan dosa khalwat. Malah dalam Enakmen Jenayah Syariah (Negeri Selangor) 2003, kesalahan khalwat dijelaskan bahawa; lelaki atau perempuan yang didapati berada bersama seorang atau lebih yang bukan mahramnya di mana-mana tempat terselindung dalam keadaan boleh menimbulkan syak mereka sedang melakukan perbuatan tidak bermoral.

Manakala hukuman kesalahan jenayah khalwat ini diperuntukkan dalam undang-undang jenayah syariah pada Seksyen 29 Enakmen Jenayah Syariah (Selangor) 1995, bila sabit kesalahannya, dendanya tidak melebihi RM3,000 atau dipenjarakan selama tempoh tidak melebihi dua tahun atau kedua-duanya sekali.

Walaupun sudah ada larangan Allah tetapi umat Islam belum terdidik dengan perintah Allah dan larangan Rasulullah. Malah tidak gentar dengan peruntukan undang-undang Syariah di atas. Umat Islam tidak takut dengan ancaman undang-undang itu kerana pada mereka kalau kena denda, tidak sukar untuk membayarnya. Dan kalau kena penjara, tidaklah lama bahkan akan dihidangkan dengan makanan yang terkawal lagi baik.

Jelas, penjenayah ini bukan sahaja tidak takut kepada undang-undang dan hukumannya malah tidak takut kepada Allah dan hukuman-Nya. Mereka juga tidak malu kepada Rasulullah dan jiran-jirannya. Ya, kalau begitu keadaannya, boleh jadi mereka ini tidak pernah sujud menyembah Allah.

Kenapa wanita dan lelaki ambil jalan pintas?

Menyedari keadaan ini, suka saya mengingatkan wanita yang terlibat juga mereka yang berniat untuk terlibat dalam aktiviti khalwat, hargailah diri anda. Tubuh wanita adalah ciptaan Allah yang termahal, maka tidak wajar diberikan percuma kepada seseorang lelaki. Ya, wajarkah barang yang mahal milik anda diberikan kepada seseorang begitu sahaja? Tentu tidakkan?

Sebenarnya dalam kes khalwat ini, wanita tersebut telah menggadaikan maruahnya kepada lelaki tanpa mendapat apa-apa manfaat kecuali mengandung anak luar nikah. Tetapi tahukah anda, seorang lelaki dalam keadaan ini boleh menyelamatkan diri dan meninggalkan anda bersama kandungan yang memalukan?

Jadi, apa faedahnya wanita menggadaikan maruahnya hanya kerana keseronokan sementara. Sebenarnya walaupun wanita itu tidak mengandung anak luar nikah, hati wanita itu tetap menderita dan hidup dalam keadaan ketakutan. Walaupun secara zahirnya mereka rasa seronok melakukan dosa dan maksiat tetapi hakikatnya hati mereka diburu rasa takut.

Percayalah ketika melakukan melakukan kesalahan itu, hati mereka sentiasa rasa bersalah dengan orang kampung dan mereka takut kalau dikesan oleh mereka. Mereka juga takut kalau-kalau ditangkap pihak berkuasa agama. Pada masa yang sama, mereka takut kalau-kalau diketahui ibu bapa masing-masing.

Bayangkan kalau setiap hari mereka dalam keadaan itu, di manakah kebahagiaan mereka. Kenapa memilih kebahagiaan sementara sedangkan kebahagiaan sebenar boleh diperoleh dengan berkahwin? Tetapi bagaimana kalau wanita itu mengandung anak luar nikah, di mana hendak disimpankan rasa malu kepada jiran, keluarga terutama ibu bapa.

Sesungguhnya ibu bapa dalam keadaan ini akan lebih terasa malu jika anak yang dididiknya sehingga dewasa mencemarkan nama baik mereka. Malah akan terlebih malu kalau anaknya dibiarkan mengandung tanpa suami. Tetapi bolehkah si anak itu membayangkan akan kesedihan dan kekecewaan ibu bapanya?

Percayalah kalau semua ini dapat dirasakan oleh wanita sebelum atau semasa hendak melakukan dosa dan maksiat itu, pasti kenikmatan sementara itu boleh ditinggalkan dengan senang hati. Apatah lagi kalau dia rasa takut kepada Allah dan hukuman yang bakal diterima nanti.

Umat Islam mesti mencegah

Gejala bersekedudukan atau khalwat ini boleh dibasmi dalam sesuatu komuniti jika semua pihak dapat bertindak sebagai pencegah. Di sini, masyarakat tempatan perlu peka dengan jiran mereka dan mengenal pasti siapa jiran mereka itu. Seseorang yang baik akan mengambil tahu status jirannya supaya dengan itu dapat mengesan mana jiran yang melakukan dosa dan maksiat sama ada pada waktu malam atau siang.

Perhatian jiran ini akan menjadikan lelaki dan perempuan yang berniat untuk melakukan dosa dan maksiat terhalang. Hal ini kerana sikap masyarakat setempat itu telah menjadi mata dan telinga masjid dan kerajaan.

Oleh sebab itu ibu bapa perlulah sentiasa mengingatkan anak-anak mereka sama ada lelaki mahu perempuan agar menjauhi dosa dan maksiat. Ingatkan anak perempuan bahawa sentuhan lelaki boleh menyebabkan mereka mengandung. Ingatkan juga, jika mereka mengandung bukan sahaja dia akan malu tetapi ibu bapa juga malu. Dan ingatkan juga anak lelaki jika mereka merosakkan maruah wanita, hakikatnya dia telah merosakkan maruah ibu bapanya sendiri.

Inilah asas didikan iman yang boleh diberikan kepada anak-anak. Jiwa mereka perlu disuburkan dengan rasa takut kepada Allah, gerun kepada neraka-Nya dan cintakan syurga-Nya. Jika semua ini dapat direalisasikan dari diri semua umat Islam pasti mereka akan menjaga maruah masing-masing.

Ketika itu umat Islam akan berada dalam masyarakat harmoni, yang tidak diselubungi gejala maksiat. Kalau di rumah boleh rasa bahagia, dalam masyarakat juga boleh rasa bahagia, dan pastinya dalam negara turut rasa bahagia.

Artikel oleh: Ustaz Ahmad Baei Jaafar
baei.blogspot.com
http://www.one-ummah.net/renungan/isu-semasa/637-larangan-berkhalwat-untuk-elak-zina.html

Thursday, May 26, 2011

Hidup, Bukan untuk Main-Main

Oleh Abu Umar Abdillah 

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara 
main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. (QS 
al-Mukminun 115) 

Ibrahim bin Adham termasuk keturunan orang terpandang. Ayahnya kaya, 
memiliki banyak pembantu, kendaraan dan kemewahan. Ia terbiasa menghabiskan 
waktunya untuk menghibur diri dan bersenang-senang. Ketika ia sedang 
berburu, tak sengaja beliau mendengar suara lantunan firman Allah Ta’ala, yang bermaksud:

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara 
main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami.” 
 (QS al-Mukminun 115) 

Serasa disambar petir. Ayat itu betul-betul menyentak beliau. Menggugah 
kesadaran, betapa selama ini telah bermain-main dalam menjalani hidup. 
Padahal hidup adalah pertaruhan, yang kelak akan dibayar dengan kesengsaraan 
tak terperi, atau kebahagiaan tak tertandingi. Yakni saat di mana mereka 
dikembalikan kepada Allah untuk bertanggung jawab atas apa yang telah 
diperbuatnya. Sejak itulah beliau tersadar, dan itulah awal beliau meniti 
hidup secara semestinya, hingga saksi sejarah mencatat beliau sebagai ahli 
ibadah dan ahli ilmu yang ‘bukan main’. 

*Bila Hidup Dianggap Main-Main* 

Rasa-rasanya, ayat ini seperti belum pernah diperdengarkan di zaman kita 
ini. Meski tidak terkalamkan, lisaanul haal menjadi bukti, banyak manusia 
yang menganggap hidup ini hanya iseng dan main-main. Aktivitasnya hanya 
berkisar antara tidur, makan, cari makan dan selebihnya adalah mencari 
hiburan. Seakan untuk itulah mereka diciptakan. 

Ayat ini menjadi peringatan telak bagi siapapun yang tidak serius menjalani 
misi hidup yang sesungguhnya. Kata ‘afahasibtum’, (maka apakah kamu 
mengira), ini berupa istifham inkari, kata tanya yang dimaksudkan sebagai 
sanggahan. Yakni, sangkaan kalian, bahwa Kami menciptakan kalian hanya untuk 
iseng, main-main atau kebetulan itu sama sekali tidak benar. Dan persangkaan 
kalian, bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami, adalah keliru. 

Allah tidak akan membiarkan manusia melenggang begitu saja, bebas berbuat, 
menghabiskan jatah umur, lalu mati dan tidak kembali, 

”Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Al-Qiyamah 36) 

Orang yang tidak mengetahui tujuan ia diciptakan, tak memiliki patokan yang 
jelas dalam meniti hidup. Tak ada panduan arah yang bisa 
dipertanggungjawabkan, hingga ia akan terseok dan tertatih di belantara 
kesesatan. 

Hanya ada tiga guide yang mungkin akan mereka percaya untuk memandu jalan. 
Pertama adalah hawa nafsu. Dia berbuat dan berjalan sesuai petunjuk nafsu. 
Apa yang diingini nafsu, itulah yang dilakukan. Kemana arah nafsu, kesitu 
pula dia akan berjalan. Padahal, nafsu cenderung berjalan miring dan 
bengkok, betapa besar potensi ia terjungkal ke jurang kesesatan. 

Pemandu jalan kedua adalah setan. Ketika seseorang tidak secara aktif 
mencari petunjuk sang Pencipta sebagai rambu-rambu jalan, maka setan 
menawarkan peta perjalanan. Ia pun dengan mudah menurut tanpa ada keraguan. 
Karena sekali lagi, dia tidak punya 'kompas' yang bisa dipertanggungjawabkan 
dalam menentukan arah perjalanan. Sementara, peta yang disodorkan setan itu 
menggiring mereka menuju neraka yang menyala-nyala, 

”Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka 
menjadi penghuni naar yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6) 

Rambu-rambu ketiga adalah tradisi orang kebanyakan. Yang ia tahu, kebenaran 
itu adalah apa yang dilakukan banyak orang. Itulah kiblat dan barometer 
setiap tingkah laku dan perbuatan. Padahal, 

”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya 
mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. al-An’am: 116) 

*Misi Hidup yang Bukan Main* 

Allah menciptakan manusia untuk tugas yang sangat agung; agar mereka 
beribadah kepada-Nya. Untuk misi itu, masing-masing diberi tenggat waktu 
yang sangat terbatas di dunia. Kelak, mereka akan mempertanggungjawabkan 
segala perilakunya di dunia, adakah mereka gunakan kesempatan sesuai dengan 
misi yang diemban? Ataukah sebaliknya; lembar catatan amal dipenuhi dengan 
aktivitas yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang diperintahkan. 

Di hari di mana mereka dinilai atas kinerja mereka di dunia, tak ada satu 
episode pun dari kehidupan manusia yang tersembunyi dari Allah. Bahkan semua 
tercatat dengan detil dan rinci, hingga manusiapun terperanjat dan 
keheranan, bagaimana ada catatan yang sedetil itu, mereka berkata, 

”Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan 
tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati 
apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).” (QS. al-Kahfi: 49) 

Sebelum peluang terlewatkan, hendaknya kita bangun motivasi, untuk 
menjadikan hidup lebih berarti. Mudah-mudahan, fragmen singkat di bawah ini 
membantu kita untuk membangkitkan semangat itu. 

Suatu kali Fudhail bin Iyadh bertanya kepada seseorang, “Berapakah umur Anda 
sekarang ini?” Orang itu menjawab, “60 tahun.” Fudhail berkata, “Kalau 
begitu, selama 60 tahun itu Anda telah berjalan menuju perjumpaan dengan 
Allah, dan tak lama lagi perjalanan Anda akan sampai.” 

“*Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un*,” tukas orang itu. 

Fudhail kembali bertanya, ”Tahukah Anda, apa makna kata-kata yang Anda 
ucapkan tadi? Barangsiapa yang mengetahui bahwa dirinya adalah milik Allah, 
dan kepada-Nya pula akan kembali, maka hendaknya dia menyadari, bahwa 
dirinya kelak akan menghadap kepada-Nya. Dan barangsiapa menyadari dirinya 
akan menghadap Allah, hendaknya dia juga tahu bahwa pasti dia akan ditanya. 
Dimintai pertanggungjawaban atas tindakan yang telah dilakukannya. Maka 
barangsiapa mengetahui dirinya akan ditanya, hendaknya dia menyiapkan 
jawaban.” 

Orang itu bertanya, ”Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Sedangkan 
kesempatan telah terlewat?” 

Fudhail menjawab, ”Hendaknya Anda berusaha memperbagus amal di umur yang 
masih tersisa, sekaligus memohon ampunan kepada Allah atas kesalahan di masa 
lampau.” 

Semoga kita mampu mengubah hidup kita, dari main-main, menjadi bukan main. 
Amien. (Abu Umar Abdillah) 

http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/02/hidup-bukan-unt... 

H I D U P BUKAN UNTUK MAIN-MAIN

Oleh : Drs. KH. A. Syamsuri Siddik

Firman Allah SWT yang bermaksud: "Dan tidaklah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan permainan (senda gurau) belaka. Dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, maka tidaklah kamu memahaminya?" (QS. Al-An’am : 32)

Bila kita membaca akhbar, mendengarkan radio dan melihat TV, dalam hati kita akan berkata :"Sungguh kehidupan dunia ini penuh dengan permainan dan tipu daya yang menyesatkan". Dalam hal ini Allah swt berfirman : "Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan!" (QS. Ali Imran :183)

Dalam suasana ‘Idul Qurban (yang baru lalu) yang semarak dan khidmat ada baiknya kita perhatikan peringatan Allah swt dalam Al-Quran bahwa Allah menciptakan manusia itu tidak main-main.

Sebagaimana firman-Nya :

"Tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dengan segala yang ada diantara keduanya dengan main-main" (QS. Al-Anbiya :16)

Di bagian lain, Allah swt menegaskan lagi mengenai tujuan penciptaan-Nya itu dengan firman-Nya : "Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka" (QS. Al-Ahqaaf :3)

Tujuan yang benar itu di bagian lain ditegaskan ialah untuk menjadi bukti kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam merenungkan tentang penciptaan langit dan bumi itu sampai pada kesimpulan : "Ya Allah! Tiadalah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Ali Imran : 190-191)

Tentang penciptaan jin dan manusia pun bukan untuk main-main, tapi mempunyai tugas yang mulia ialah beribadah kepada Allah dengan tujuan akhir untuk mendapatkan ridla-Nya.

Allah SWT berfirman :
"Tidaklah semata-mata Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah" (QS. Adz-Dzaariyaat :56)

Namun demikian, masih banyak orang yang mengulur-ulur waktu, menunda-nunda ibadah itu, padahal jangka waktu hidup ini sangat terbatas. Sampai-sampai Allah mengingatkan manusia dengan bahasa himbauan yang sangat retoris.

Allah swt berfirman :
"Belumlah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya yang telah diberi Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka menjadi Fasik." (QS. Al-Hadiid :16).

http://centrin21.tripod.com/Hidup_Bukan_Untuk_Main-main.htm