Showing posts with label dakwah. Show all posts
Showing posts with label dakwah. Show all posts

Tuesday, November 17, 2009

Doa agar mati syahid dalam membela agama Islam

Di ambil dari Kitab Fikih Sunnah oleh Sayid Sabiq:

Kita di sunnatkan minta meninggal pada salah satu tanah suci Makkah dan Madinah.

Hafsah r.anha meriwayatkan Umar r.a. berdoa, “Ya Allah, kurnialah aku mati syahid dalam membela agamaMu, dan tempatkan kematianku itu di negeri Rasulmu s.a.w.”. Hafsah r.anha bertanya, “Bagaimana bisa?”. Ujar Umar r.a., “Insya Allah akan dikabulkan”.

Rujukan: Fikih Sunnah(1990). Fikih Sunnah. Cetakan Pertama. Edisi Malaysia. KL: Victory Agencie. ms 75.

Sejarah menunjukkan Saidina Umar r.a. mati syahid akibat dibunuh oleh Abu Lu’luah, seorang Majusi kerana ditikam 6 kali sewaktu menjadi imam ketika solat di Masjid Nabawi. Dan juga kita tahu bahawa jenazah Saidina Umar r.a. di semadikan berjiran dengan makam Rasulullah s.a.w.

Alhamdulillah, sesungguhnya Allah telah mengurniakan kedua-duanya permintaan Saidina Umar r.a.

Nasib kita belum tentu. Setiap yang hidup akan berdepan dengan kematian pada suatu masa nanti. Daripada mati kerana sebab-sebab lain, lebih BAIK mati syahid dalam membela agama Islam.

Rasanya eloklah kita juga berdoa seperti yang didoakan oleh Saidina Umar r.a. seperti disebutkan di atas, iaitu Ya Allah, kurnialah kami mati syahid dalam membela agamaMu, dan tempatkan kematian kami itu di negeri Rasulmu s.a.w.

Ya Allah, kurniakanlah permintaan kami yang banyak dosa ini dan masih bermain-main dalam berdakwah. Amin.

Wednesday, October 07, 2009

Zina & Riba Menarik Azab Allah

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri”. (HR Thabrani dan Al Hakim).

Berjaga-jaga jangan sampai mengundang azab Allah.

Berdakwahlah kerana dakwah menarik rahmat Allah.

Manusia Makhluk Pelupa : Dakwah Tugas Semua

Manusia memang makhluk yang mudah sekali melupakan peringatan Allah. Lihatlah, fenomena yang terjadi di daerah-daerah bekas bencana. Beberapa hari setelah bencana, masjid-masjid dipenuhi manusia yang meratap dan berdoa kepada Allah. Tapi, ketika tahun berganti tahun, ketika bangunan-bangunan mulai direnovasi, saat sisa-sisa bencana mulai sirna, maka banyak lagi yang melupakan masjid. Solat jamaah yang sebelumnya sempat ramai, kemudian menjadi sepi kembali. 

Lebih parah lagi, kemaksiatan yang sebelumnya sempat mereda, kembali marak. Bahkan, ada yang secara terang-terangan kembali menentang Allah untuk menurunkan azabnya. Persis dengan apa yang dilakukan oleh kaum nabi-nabi yang diperingatkan tetapi malah menantang Allah dan Rasul-Nya.

http://www.republika.co.id/berita/29965/REFLEKSI_PERADABAN_Fenomena_Bangkitnya_Kaum_Luth_di_Indonesia

MAKNA GEMPA BUMI SUMATERA

Tajuk asal: MAKNA GEMPA SUMATERA. Oleh: Dr. Adian Husaini

Bumi Indonesia, negeri kita, lagi-lagi dihantam gempa. Kali ini, 30 September 2009, wilayah Sumatra Barat, khususnya kota Padang dan Pariaman menerima pukulan berat. Bumi digoncang keras dengan gempa berkekuatan 7.6 skala Richter. Hampir semua gedung bertingkat di Kota Padang runtuh atau rusak berat. Ratusan orang tertimbun dalam reruntuhan gedung. Ratusan lainnya tertimbun tanah. Bahkan ada puluhan anak yang sedang belajar di satu gedung bimbingan belajar tertimbun reruntuhan bangunan.

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa bumi Minang yang terkenal dengan semboyan "Adat bersendi syara’ dan syara’ bersendi Kitabullah”. Dan Mengapa ini terjadi? Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan, dihantam gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.
Seperti biasa, setiap terjadi gempa, para ilmuwan selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser atau pecahnya lempengan tertentu di bumi. Bagi orang sekular, gempa dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Tapi, sebaliknya, orang mukmin yakin benar bahwa gempa ini bukan sekedar peristiwa alam biasa. Hubungan kausalitas tidaklah bersifat pasti, tetapi tergantung kepada kehendak (Iradah) Allah. Api yang mestinya membakar tubuh Nabi Ibrahim, bisa kehilangan daya bakarnya, karena kehendak Allah. Biasanya, dalam berbagai bencana muncul berbagai ”keajaiban” yang di luar jangkauan manusia.

Allah SWT menjelaskan dalam al-Quran (yang artinya):

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS Al-Hadid:22-24)
Sebuah ayat al-Quran juga menjelaskan terjadinya peristiwa semacam gempa bumi di masa lalu, (yang artinya): “Orang-orang sebelum mereka telah melakukan makar kepada Allah, maka Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari pondasi-pondasinya, dan Allah menjatuhkan atap-atap (bangunan) dari atas mereka, dan Allah menurunkan azab dari arah yang tidak mereka perkirakan.” (QS an-Nahl: 26).

Entah rahasia apa yang terkandung dalam Gempa Sumatra kali ini. Setiap musibah mengandung banyak makna. Akal kita terlalu terbatas untuk memahami hakekat segala sesuatu dalam kehidupan. Kita tidak mudah paham, mengapa dalam gempa kali ini, begitu banyak anak-anak yang tertimbun reruntuhan gedung. Anak-anak itu sedang belajar. Bukan sedang bermaksiat. Hikmah apa yang terkandung dalam peristiwa semacam ini? Tidak mudah memahami semua itu, sebagaimana juga Nabi Musa a.s. sangat sulit memahami berbagai tindakan Khaidir a.s.

Memang, suatu musibah bisa bermakna sebagai hukuman Allah bagi orang-orang yang berdosa. Musibah juga bisa bermakna ujian bagi orang-orang yang beriman. Musibah pun bermakna peringatan Allah bagi orang-orang yang selamat. Kita yang selamat dari musibah, sejatinya sedang diberi peringatan oleh Allah, agar kita segera ingat kepada Allah, agar segera melakukan evaluasi dan segera melakukan perbaikan diri. 

Biasanya, manusia memang cenderung mendekat kepada Allah ketika berada dalam bahaya. Kita biasanya berdoa dengan tulus ikhlas ketika pesawat yang kita tumpangi dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Ketika itu kita berjanji, berdoa dengan tulus, bahwa kalau kita selamat, maka kita akan berbuat baik di dunia. Tapi, ketika pesawat mendarat dengan selamat, maka biasanya manusia kembali melupakan Allah dan sibuk dengan urusan dunia. Sejumlah ayat al-Quran menggambarkan sifat manusia kebanyakan semacam itu:
”Dialah (Allah) yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan; sehingga ketika kamu berada di dalam bahtera, lalu meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, maka datanglah angin badai; dan ketika gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka tengah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): ”Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”

Maka, tatakala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi, tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu; lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Yunus: 22-23).

Bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah, Insyaallah ini adalah ujian bagi mereka. Jika mereka sabar, maka pahala besarlah bagi mereka. Ujian adalah bagian dari kehidupan orang mukmin, baik ujian senang maupun ujian susah. Manusia selalu diuji imannya. Dengan ujian itulah, maka tampak, siapa yang imannya benar dan siapa yang imannya dusta.

”Apakah manusia menyangka b ahwa mereka akan dibiarkan mengatakan ”Kami beriman”, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS al-Ankabut: 2-3).

Lihatlah di dunia ini! Ada orang-orang yang diuji oleh Allah dengan segala macam kekurangan. Ada yang diuji dengan kecacatan, kebodohan, dan kemiskinan. Ada yang diuji dengan harta melimpah, kecerdasan, dan kecantikan. Ada yang diuji dengan musibah demi musibah. Semua itu adalah ujian dari Allah. Hidup di dunia ini adalah menempuh ujian demi ujian. Jika kita lulus, maka kita akan selamat di akhirat. Karena itu, apa pun hakekat dari musibah gempa Sumatra kali ini, maka mudah-mudahan ujian itu mampu mendorong saudara-saudara kita di sana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan semakin aktif berdakwah memberantas segala bentuk kemunkaran yang mendatangkan kemurkaan Allah. Kita diingatkan, bahwa manusia mudah lupa. Sampai beberapa hari setelah musibah, biasanya masjid-masjid masih dipenuhi jamaah. Tapi, setahun berlalu, biasanya manusia sudah kembali melupakan Allah dan lebih sibuk pada urusan duniawi.

Bagi yang meninggal dalam musibah, kita doakan, semoga mereka diterima Allah dengan baik; amal-amalnya diterima, dan dosa-dosanya diampuni. Musibah tidak pandang bulu. Manusia yang baik dan buruk juga bisa terkena. Allah SWT sudah mengingatkan, “Dan takutlah kepada fitnah (bencana, penderitaan, ujian) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah, Allah sangat keras siksanya.” (QS an-Anfal:25).

Kita yang selamat baiknya segera menyadari, bahwa di mana pun kita berada, kematian akan selalu mengintai. Dalam surat an-Nahl:26, kita diingatkan, bahwa hukuman Allah ditimpakan kepada umat manusia, karena melakukan makar kepada Allah. Mereka berani menentang Allah secara terbuka, secara terang-terangan. Kita tidak perlu ikut-ikutan tindakan makar kepada Allah yang dilakukan sebagian orang. Misalnya, Allah jelas-jelas menghalalkan pernikahan dan mengharamkan zina. Tetapi yang kita saksikan, di negeri kita, ada orang nikah malah masuk penjara dan para pelaku zina tidak mendapatkan sanksi apa-apa. Bahkan, di negeri yang harusnya menjunjung tinggi paham Tauhid (Ketuhanan Yang Maha Esa) ini, sejumlah media massa berani menghujat hukum-hukum Allah secara terbuka. Padahal, yang berhak menentukan halal dan haram adalah Allah. Adalah tindakan yang tidak beradab jika maanusia berani merampas hak Allah tersebut.
Kita menyaksikan, bagaimana sekelompok orang – dengan alasan kebebasan berekspresi (freedom of expression) — dengan terang-terangan menantang aturan Allah dalam soal pakaian. Mereka menyerukan kebebasan. Mereka pikir, tubuh mereka adalah milik mutlak mereka sendiri, sehingga mereka menolak segala aturan tentang pakaian. Bukankah tindakan itu sama saja dengan menantang Allah: ”Wahai Allah, jangan coba-coba mengatur-atur tubuhku! Mau aku tutup atau aku buka, tidak ada urusan dengan Engkau. Ini urusanku sendiri. Ini tubuh-tubuhku sendiri! Aku yang berhak mengatur. Bukan Engkau!” Memang, menurut Prof. Naquib al-Attas, ciri utama dari peradaban Barat adalah ”Manusia dituhankan dan Tuhan dimanusiakan!” (Man is deified and Deity humanised). Manusia merasa berhak menjadi tuhan dan mengatur dirinya sendiri. Persetan dengan segala aturan Tuhan!

Para ulama sering menyerukan agar tayangan-tayangan di TV yang merusak akhlak dihentikan. Banyak laki-laki yang berpakaian dan berperilaku seperti wanita. Padahal itu jelas-jelas dilaknat oleh Rasulullah saw. Tapi, peringatan Rasulullah saw yang disampaikan para ulama itu diabaikan, bahkan dilecehkan. Kaum wanita yang tercekoki paham kesetaraan gender didorong untuk semakin berani menentang suami, menolak kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga, dan menganggap wanita sama sederajat dengan laki-laki. Bahkan, di zaman seperti sekarang ini, ada sejumlah dosen agama yang secara terang-terangan berani menghalalkan perkawinan sesama jenis. Manusia seperti ini bahkan dihormati, diangkat sebagai cendekiawan, disanjung-sanjung, diundang seminar ke sana kemari, diberi kesempatan menjadi dosen@pensyarah agama. Jika manusia telah durhaka secara terbuka kepada Allah, maka Sang Pencipta tentu mempunyai kebijakan sendiri. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri”. (HR Thabrani dan Al Hakim).

Dalam soal homoseksual, Allah sudah memperingatkan:

“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu”. (QS al-Ankabut:28).

Rasulullah saw juga memperingatkan:
“Barangsiapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” (HR Ahmad).

Pada setiap zaman, manusia selalu terbelah sikapnya dalam menyikapi kebenaran. Ada yang menjadi pendukung kebenaran dan ada pendukung kebatilan. Yang ironis, di era kebebasan sekarang ini, ada orang-orang yang sebenarnya tidak memahami persoalan dengan baik, ikut-ikutan bicara. Pada 29 September 2009 lalu, dalam perjalanan kembali ke Jakarta, di tengah malam, saya mendengarkan pro-kontra masyarakat tentang rencana kedatangan seorang artis porno dari Jepang ke Indonesia. Si artis itu kabarnya akan main film di Indonesia. Yang ajaib, banyak sekali pendengar radio tersebut yang menyatakan dukungannya terhadap kedatangan artis porno tersebut. Kata mereka tidak ada alasan untuk melarangnya, karena dia bukaan teroris. Suara MUI yang keberatan dengan rencana kedatangan artis tersebut, menjadi bahan ejekan. Sungguh begitu sukses setan dalam menipu manusia, sehingga perbuatan-perbuatan bejat dipandang indah; sebaliknya perbuatan baik malah dipandang jahat.

”Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.” (QS an-Nahl: 63). 

Mudah-mudahan segala macam musibah yang menimpa kita dan saudara-saudara kita mampu melecut kita semua untuk sadar diri dan mengenali mana yang baik dan mana yang buruk. Allah SWT senantiasa membukakan pintu taubat-Nya untuk kita semua. Dunia ini hanyalah kehidupan yang penuh dengan tipuan dan ujian. Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Banyak manusia meratapi bencana fisik, tapi mengabaikan bencana iman berupa meluasnya kekufuran. Kita wajib menolong saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, semampu kita. Pada saat yang sama, kita berdoa, mudah-mudahan Allah masih mengasihani kita semua, menunda azab atau hukumannya, dan memberikan kesempatan kepada kita untuk berbenah dan memperbaiki diri. Amin. [Depok, 3 Oktober 2009]

Sumber: www.hidayatullah.com]

Siapa bertanggung jawab terhadap maksiat dalam negara?

Siapa bertanggung jawab terhadap maksiat dalam negara? Ustaz Amin melihat dari tanggung jawab lima golongan:

1. Pemimpin
Untuk memberikan solusi secara drastik, ia memerlukan perhatian dari golongan pemimpin negara. Pemimpin negara boleh memberi arahan kepada seluruh penguatkuasa untuk membersihkan perkara ini. Beri tumpuan pada pendidikan, jaga media massa, kurangkan hiburan dan sebagainya.

Cuba kita lihat di negara Iran contohnya. Apabila media massa di kawal, rancangan hiburan Islam diperbanyak, maka payah ingin melihat perkara maksiat, malahan tarannum (lagu al-Quran) menjadi kegilaan bagi anak-anak muda.

Tapi jika pemimpin pun gemar pada seks. Maka sudah tentu, kemahuan menghalang itu kurang. Cuba lihat pemimpin pilihan baru-baru ini, belum kahwin dah tidur dengan orang. Soal ia didedahkan oleh parti lawan, itu soal lain, tapi dari sudut moral, agama dan adat ketimuran ia tetap menjijikkan. Bagaimana ingin membetulkan bayang-bayang jika tiangnya sendiri pun bengkok.

2. Pelaksana undang-undang
Para pelaksana undang-undang perlu lebih tegas bagi memastikan ia terkawal. Ada kadang-kala, maksiat depan mata pun, tidak dicegahnya, apabila ditanya, "kami tak dapat laporan". Ia melibatkan penguatkuasa dari kerajaan maupaun dari jabatan agama. Yang dah buat alhamdullillah, kita tidak nafikan usaha itu, tetapi perlu lebih agresif lagi. Ada soalan sedang menunggu kita di akhirat.

3. Masyarakat
Masyarakat juga perlulah sama-sama turut menjaga keadaan ini. Para artis dan pelakon termasuk anggota masyarakat. Dia yang selalu keluar dan menjadi idola para pemuda. Tetapi jika para artis juga selalu terlibat dengan pergaulan bebas, maka contoh itu dilihat oleh remaja, dan gaya hidup itu akan diikuti.

4. Keluarga
Walaupun ibu bapa sibuk, ia tetap perlu meluangkan masa yang kualiti bersama anak-anak. Anak yang terbiar akan lebih selesa mencari penyelesai masalah bersama kawan dari keluarga. Hasilnya, jika ia berkawan dengan golongan yang salah, maka nasihat jahatlah yang selalu dengar.

5. Pertolongan dari Allah.
Setelah kita perkasakan keempat di atas, ia tetap tidak sempurna jika tiada restu izin dari Allah. Setelah berusaha semaksima mungkin, semua perlu berdoa. Agar ia dipelihara oleh Allah. Allah berfirman: "Jika sebuah negeri itu beriman dan bertaqwa maka Kami akan buka pintu keberkatan dari langit dan bumi."

Ini harapan kita, semua pihak bertanggung jawab. Jika anak muda rosak, siapakah pelapis perjuangan yang boleh kita harapkan untuk membela agama, bangsa dan negara.

http://www.ustazamin.com/2009/02/tarbiah-dan-dakwah-9-seks-di-tepi-jalan.html

Ulasan: Suatu masa anak muda kita akan mempersoalkan mengapa pemimpin negara, pelaksana undang-undang, masyarakat dan keluarga membiarkan mereka rosak? Kalau benar-benar sayangkan generasi masa depan, buatkan sesuatu yang bermanfaat.


Wednesday, September 09, 2009

Sayang kawan kerana Agama

Fikir-fikirlah caranya asalkan halal supaya kawan-kawan kita - bagaimana pun mereka waktu ini - boleh rapat dengan Agama... 

Bukan apa. Kerana tanpa mengamalkan Agama dalam hidup ini, apalah nilai kita di sisi Allah? Tersangatlah rugi kita kalau sewaktu hidup di dunia ini, kita tidak rapat dengan Agama.

Hujungnya nanti, kita tidak ada pilihan, melainkan semua kita, tanpa kecuali, kena kembali kepada Allah.
Dan kita akan bertanggung jawab seluruhnya keatas amal kita sebelum kematian kita... 

Kerana itu penting untuk kita ingat, dapat atau tak dapat, dunia ini yang bakal di tinggalkan kerana kesenangannya atau pun kesusahan hanyalah sementara.

Fikir-fikirkanlah dan buat cepat keputusan bijak. 

Tuesday, August 18, 2009

Penyakit zaman moden: Berzina kerana ikhlas

Seorang remaja yang menamakan dirinya Yang Ikhlas telah menghantar satu surat kepada Dr Danial Zainal Abidin baru-baru ini. Antara isi surat itu ialah:

Dr. Danial yang dihormati. Saya telah bercinta dengan seorang wanita. Demi cinta kami telah berzina. Tetapi saya tidak rasa bersalah sebab saya ikhlas dengannya. Saya hendak mengambilnya sebagai isteri saya. Saya tidak bertujuan untuk mempermainkannya. Rakan-rakan saya mengatakan tindakan saya adalah gentleman. Tetapi saya telah dimarahi oleh orang-orang tua saya. Saya rasa mereka berotak kolot. Apakah pandangan dan nasihat tuan.

JAWAPAN DR. DANIAL

Yang Ikhlas yang dihormati.Saya bersyukur tentang keikhlasan saudara dan saya berharap itulah asas perbincangan kita. Dengan keikhlasan itu jugalah saya menulis jawapan ini kepada saudara.

Dunia pada hari ini sedang dilanda krisis. Satu di antaranya ialah krisis nilai. Krisis nilai inilah yang menjadi sebab keruntuhan Empayar Rom. Edward Gibbon dalam bukunya The History of Decline and Fall of the Roman Empire telah menulis bahawa: Segala dasar-dasar akhlak dan moral di Rom telah runtuh sehingga ramai orang memilih jalan untuk hidup bebas. Di akhir abad keenam, Kerajaan Romawi Timur sedang berada di ambang keruntuhan yang paling dahsyat sekali!

Nabi datang untuk selamatkan kita dari kehancuran yang seperti itu. Nabi bersabda: Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (Hadis riwayat Ahmad & Baihaqi).

Nilai akhlak inilah yang merupakan landasan dan kayu pengukur yang penting bagi kita.. Akhlak tidak menghalang kehendak-kehendak fitrah. Ia mencantikkannya. Sebagai contoh, Islam tidak pernah menyuruh kita menutup nafsu seks, sebaliknya menyalurkannya kepada suatu yang murni, selamat dan mendamaikan. Perkahwinan adalah salurannya. Alangkah indahnya firman Allah yang bermaksud: Isterimu adalah ladang bagimu maka datangilah isterimu dengan cara mana yang kamu mahu (Surah Al-Baqarah ayat 223). Dalam bahasa mudah, selepas berkahwin, puaskanlah nafsumu dengan isterimu sesuka hatimu, melainkan dengan cara yang jelas telah diharamkan kerana kemudaratannya.

Saya harus mengatakan bahawa nilai pada hari ini banyak diasaskan kepada konsep Machiavellianisme yang dipopularkan oleh seorang pemikir dari Florence, Italy yang bernama Niccolo Machiavelli.

Machiavelli, dalam bukunya The Prince telah menekankan konsep the end justifies the means ataupun niat membersihkan (menghalalkan) cara. Asalkan niat kita baik, berzinalah, menipulah, khianatilah, menyamunlah dan begitulah seterusnya. Semua adalah halal bagi Machiavelli. Laporan akhbar 6 Ogos 1999 juga ada perkaitan dengan krisis nilai ini apabila seorang tokoh koporat berpangkat Datuk, telah menceritakan di mahkamah tentang hubungan seksnya dengan seorang pembaca berita RTM. Beliau mengatakan bahawa niatnya adalah suci kerana bertujuan untuk mengahwininya. Itulah nilai yang sedang melanda dunia sekarang: Seks adalah suci walaupun tanpa perkahwinan!

Memang ada yang mengatakan bahawa pergaulan dan seks bebas ini adalah lambang kemajuan dan kemodenan. Nilai agama dan akhlak adalah kolot. Jika demikian, mari kita perhatikan hasil dan sumbangan seks bebas kepada dunia. Seks bebas telah berjaya merebakkan penyakit AIDS, contohnya di Thailand, sehinggakan akhbar Der Spiegel pernah menjadikan tajuk AIDS in Asia - Killer Epidemic in Sex Paradise (AIDS di Asia -Wabak Pembunuh di Syurga Seks), sebagai tajuk muka depannya. Di California, hampir 61,000 bayi luar nikah dilahirkan pada tahun 1997. Kajian oleh Jabatan Perkhidmatan Kesihatan dan Kemanusiaan Amerika mendapati bahawa anak-anak luar nikah ini mempunyai lebih daripada dua kali ganda kemungkinan diserang masalah emosi di dalam hidup mereka, berbanding dengan anak-anak lain (Rujukan: California Teenage Pregnancy Statistics).
.
Kita di Malaysia juga telah dimalukan dengan penonjolan kes pembuangan bayi luar nikah di kalangan remaja-remaja kita. Semua ini bukanlah sumbangan yang membanggakan bagi dunia moden.

Islam menekankan bahawa niat dan cara perlu betul. Niat kena ikhlas, cara kena mengikut syariat. Syariat mengharamkan zina. Nabi kita bersabda: Selepas dosa syirik kepada Allah, tidak ada dosa yang lebih besar daripada seseorang meletakkan air maninya ke faraj yang tidak halal baginya! (Hadis riwayat Ahmad & Thabrani).

Saya berharap saudara Yang Ikhlas akan kembali ke jalan yang murni berdasarkan agama. Seks bebas dan keruntuhan moral bukannya lambang kemajuan sebaliknya lambang kemunduran dan kehancuran.

Kaum Lut hancur kerananya. Kota Pompei hancur kerananya. Empayar Rom juga hancur kerananya. Justeru, kembalilah ke pangkal jalan.(Semoga jawapan ini juga mendatangkan manfaat kepada mereka yang lain)

http://www.tranungkite.net/v9/modules.php?name=News&file=article&sid=1975

Ulasan: Anda Bijak Jauhi Zina.

Thursday, June 18, 2009

Israel selamanya tidak berminat untuk berdamai

Sudah Terang Lagi Bersuluh 
– Netanyahu tidak berminat untuk mencari jalan perdamaian 


Kenyataan dari PACE – Palestinian Centre of Excellence 

Ucapan Benjamin Netanyahu di Universiti Bar-Ilan menggambar polisi regim Zionis terhadap isu Palestin. Ia dengan jelas menggariskan dasar-dasar Israel yang tidak pernah berubah sejak entiti haram itu rasmi berdiri pada tahun 1948. Sejak dari hari pertama, agenda pendukong ideologi Zionis ialah untuk mendirikan sebuah Negara Yahudi dengan mengusir dan menafikan hak rakyat Palestin untuk kembali ke tanah air mereka sendiri. Netanyahu tanpa berselindung meletakkan pengiktirafan penuh Palestin dan Negara-negara Arab ke atas entiti Zionis sebagai Negara Yahudi sebagai syarat untuk mengakui kewujudan Negara Palestin. Kenyataan ini lagak seorang ketua mafia yang tidak memberi pilihan langsung kepada mangsa peras ugutnya supaya tunduk kepada semua kehendak-kehendak jahatnya. 

Apakah implikasi kepada kenyataan Netanyahu apabila menuntut Palestin mengakui Israel sebagai Negara Yahudi. Ia hanya membawa satu tafsiran sahaja iaitu orang lain tidak punya tempat dan tidak punya hak ke atas bumi Palestin samada yang dirampas Israel pada tahun 1948 atau wilayah yang diduduki sehingga kini sejak tahun 1967. Jika adapun ruang bermastautin untuk mereka maka mereka adalah warga kelas kedua yang akan terus dinafikan pelbagai hak termasuklah hak untuk bergerak bebas tanpa sebarang sekatan seperti yang berlaku kepada penduduk Palestin di Tebing Barat dan Baitul Maqdis Timur. Pengakuan Israel sebagai Negara Yahudi juga bererti merestui penempatan-penempat an haram pendatang Yahudi yang berselerak kini di Tebing Barat dan mengakui hak mereka untuk terus menceroboh tanah milik penduduk Palestin untuk memperbesarkan lagi penempatan-penempat an tersebut. Kini kita sedang menyaksikan pembinaan puluhan ribu unit-unit apartmen untuk penduduk Yahudi sedang rancak di bina di persekitaran Baitul Maqdis dan Kota Lama (Tanah Suci umat Islam yang menempatkan Masjid al Aqsa) untuk melengkapkan agenda pengyahudian entiti haram Zionis.  

Netanyahu terus menguji pendirian masyarakat antarabangsa apabila menegaskan isu pelarian Palestin harus diselesaikan di luar batas Negara Israel. Kenyataan ini secara terang-terangan mencabar kewibawaan Bangsa-bangsa Bersatu yang telahpun meluluskan Resolusi PBB 194 (III) yang memberi hak kepada rakyat Palestin yang terusir dari wilayah Palestin kembali ke tanah air mereka. Resolusi ini bukan sahaja diketepikan begitu sahaja bahkan Netanyahu memberi gambaran seolah-olah ia tidak pernah wujud. Inilah sikap yang diwarisi oleh pendukung-pendukung Zionis sejak dahulu yang tidak pernah berubah. Ia adalah ibarat agama yang dipegang kukuh oleh penganut-penganutny a tanpa ada sedikit ruang pun untuk bertolak ansur. Golda Meir yang pernah menjadi Perdana Menteri Israel yang ketiga pernah mengungkapkan bahawa ‘Kami tidak mengambil hak rakyat Palestin, sebaliknya rakyat Palestin tidak pernah wujud’. Keangkuhan inilah yang kini diulang kembali oleh waris ideology zionis seperti Netanyahu pada hari ini. 

Netanyahu cuba berselidung di atas nama agama Yahudi apabila mengatakan Israel adalah bumi yang diwariskan kepada mereka oleh Tuhan sejak 3,500 tahun yang lalu. Apakah beliau menyangka masyarakat antarabangsa boleh dibohongi begitu sahaja dengan fakta sejarah yang palsu? Di manakah bangsa Yahudi ketika bumi Palestin dihuni oleh pelbagai bangsa seperti Kanaan (yang merupakan nenek-moyang kepada orang Palestin pada hari ini), bangsa Phonecian, bangsa Filistin dan lain-lain yang sudah membangunkan tamadun di sana sejak 6,000 tahun yang lalu jauh sebelum Nabi Ibrahim AS, bapa kepada kaum semitik (Yahudi dan Arab) berhijrah ke sana dari Mesopotamia (Iraq). Jelas cubaan untuk menggunakan fakta sejarah yang diselewengkan hanya satu langkah terdesak pendukong ideologi Zionis. Bahkan kelompok Yahudi tulen yang obejktif dan bergerak di dalam sebuah Pertubuhan Naturikarta membidas semua dakwaan palsu golongan zionis ke atas bumi Palestin atas nama agama Yahudi. Mereka sama sekali menolak untuk dikaitkan dengan pemalsuan golongan zionis ke atas sejarah bumi Palestin. Bagi mereka agama Yahudi sendiri tidak merestui pembohongan kelompok zionis menwajarkan pendudukan dan penindasan yang mereka lakukan ke atas rakyat Palestin. 

Ucapan Netanyahu adalah satu maklum balas kepada ucapan 'perdamaian’ Obama di Kaherah. Obama menekankan betapa perlu regim zionis menghormati keputusan-keputusan yang telah disepakati terutama di dalam membekukan aktiviti pembinaan penemapatn Yahudi di wilayah Palestin yang diduduki. Netanyahu menyampaikan satu ’message’ jelas kepada Obama yang cuba mencari sedikit sokongan dari rakyat Palestin, dunia Arab dan masyarakat Islam antarabangsa, iaitu ’jika Palestin hendak wujud ia harus bersedia untuk terus hidup dalam penindasan dan penafian hak di negara mereka sendiri. Mereka harus bersedia untuk berhadapan dengan pelbagai sekatan yang menyekat kebebasan bergerak samada oleh pos kawalan tentera, pemeriksaan keselamatan, tembok pemisahan atau kepungan. Bahkan mereka harus bersedia untuk hidup sebagai warga kelas kedua yang bukan sahaja tidak mendapat hak yang sama dengan rakyat Israel bahkan tidak punya sebarang kedaulatan dan harga diri sebagaimana yang sewajarnya dimiliki oleh semua negara yang bebas dan merdeka. 

Netanyahu juga tidak lupa mengunci sebarang peluang untuk rundingan apabila meletakkan syarat mustahil iaitu negara Palestin yang bakal wujud mesti tidak boleh membangunkan kemampuan pertahanannya (demilitarized) . Negara berdaulat yang semacam apakah yang tidak dibenarkan untuk membina kemampuan pertahanannya sendiri? Bukankah aspek keselamatan dan pertahanan adalah elemen paling penting di dalam menjamin kedaulatan sebuah negara? Sudah terang lagi bersuluh, Netanyahu meletakkan syarat-syarat yang tidak munasabah untuk mewujudkan sebarang jalan menuju perdamaian di Palestin.  

Masyarakat antarabangsa seharusnya mendapat mesej yang jelas dari ucapan Netanyahu. Netanyahu tidak memberi sebarang pilihan lain kepada dunia melainkan dengan mengenakan tekanan antarabangsa yang berterusan agar Israel menghormati Piagam Bangsa-Bangsa Bersatu, melaksanakan semua Resolusi PBB berkaitan hak rakyat Palestin yang sudah lama tertangguh, menghentikan pelanggaran menyolok mata ke atas Deklarasi Hak Asasi Manusia 1948, menghentikan kepungan ke atas Gaza yang bertentangan dengan Konvensyen Geneva yang ke 4 (1949), mengosongkan penempatan Yahudi di Tebing Barat dan Baitul Maqdis Timur dan keluar dari wilayah Palestin yang diduduki pada tahun 1967 seperti yang digariskan dalam Resolusi 242 dan 338 serta menghentikan pembinaan tembok pemisah dan merobohkannya sesuai dengan keputusan Mahkamah Keadilan Antarabangsa di The Hague. Jika satu gerakan global dapat dijana ke atas inisiatif-inisiatif ini maka tidak mustahil regim Zionis Israel akan tamat riwayatnya sebagaimana Regim Apartheid Afrika Selatan berakhir akibat dari tekanan antarabangsa yang berterusan. 

Dr Hafidzi Mohd Noor 
Pengarah 
Pusat Kecemerlangan Palestin (PACE) 
16 Jun 2009

Komen: Tidak mungkin bagi warga Palestin yang terjajah mengiktiraf penjajah sekaligus identiti haram Israel. Lawan tetap lawan. Biar putih tulang, jangan putih mata.

Thursday, May 28, 2009

Kita boleh jadi hebat…

Kita boleh jadi hebat - seperti ummat Islam di zaman silam – jika kita amalkan Islam keseluruhannya.

Jangan hanya amalkanIslam sebahagian dan tinggalkan sebahagian macam orang pergi membeli-belah di pasar hyper.

Masuklah Islam keseluruhannya (just enter Islam wholly) dengan mengikut program yang disusun khas untuk peningkatan diri.

Semakin hari semakin berkurang umur kita. Suatu hari nanti kita akan jadi sejarah juga. Sebelum itu berlaku, eloklah kita lakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Yang teratas ialah mengajak orang lain kepada Islam, satu-satunya agama yang di iktiraf Allah.

Jangan tengok kiri kanan lagi. Just do it.

Wednesday, January 21, 2009

Susah Payah Menolong Agama

Biarlah kita bersusah sedikit asalkan Islam menang.
Jangan bimbang kerana setiap kesusahan kita akan di ganjarkan sewajarnya oleh Allah, Tuhan yang Maha Adil.
Apalah nilai hidup ini kalau tidak mahu menjadi penolong agama Allah?
Kita semua sama-sama akan balik mempersembahkan semua amalan kita kepada Allah.

Tuesday, January 13, 2009

Teruskan Gaya Hidup Kita

Supaya berterusan pertautan hati sesama saudara se agama, kita perlu istiqamah ikut program usrah.

Untuk itu, kita perlu redha di didik dan kemudiannya mendidik orang lain supaya cinta dan utamakan agama.

Itulah gaya hidup kita zaman berzaman.

Dengan agama terbukti kita boleh hebat dunia akhirat.

Kalau tidak, terbukti manusia hanya jadi mainan nafsu dan syaitan yang penuh tipu daya.

Thursday, January 08, 2009

Kita Yang Bersalah Bila Anak Gadis Mabuk Dengan Perzinaan

oleh Pak Teh Majid

Terkejut saya membaca laporan berita tentang ramainya remaja perempuan Islam yang terjerumus dalam lembah perzinaan sejak usia masih mentah lagi. Segera saya sedar bahawa perlu tindakan segera bagi mengatasi konflik sosial yang makin membarah ini.

Bayangkan, anak-anak remaja perempuan yang masih bersekolah, berumur di bawah 15 tahun tetapi saban hari mengadakan persetubuhan haram, dan berbangga dengan maksiat yang mereka lakukan, masya-Allah. Malah, rakan-rakan sebaya yang tidak pernah berzina akan dikutuk, atau paling kurang diperli, kerana kononnya tidak mengikuti peredaran zaman.

Perkembangan buruk ini adalah mala petaka di atas kelalaian kita sebagai umat yang sepatutnya dibangga oleh Nabi Muhammad kerana berperanan bagi menyeru kebenaran dan mencegah maksiat. Lebih teruk, umat Islam yang sedar tentang tugas dan tanggungjawab pun makin melupai peranan unggul sebagai jurudakwah.

Saya mohon keampunan kepada Allah kerana turut alpa dan lalai dengan peranan mulia warisan para Nabi ini. Kita semakin hidup sendiri-sendiri, hanya menjaga diri, keluarga dan kelompok sempit. Dunia yang makin terlungkup seperti tidak dipedulikan.

Anak-anak muda yang kehilangan arah itu menjadi tanggungjawab kita bagi memandu mereka ke arah jalan yang lurus dan selamat.

Dengan duduk berdiam diri, sekadar menggeleng kepala tanda tidak berpuas hati atau membantah lingkungan mungkar, ia tidak akan membawa kita ke mana-mana, sebaliknya kian terperosok dengan fenomena kemaksiatan melampau itu. Moga Allah tidak menurunkan bala atas semua umat disebabkan kelalaian kita BERDAKWAH.

http://kedahlanie.blogspot.com/

Komen: Jom Bersama Berdakwah Menyelamatkan Manusia Dari Siksa Akhirat.

Wednesday, February 06, 2008

Dakwah Tugas Kita Semua

Dalam apa keadaan, semua kita perlu BERDAKWAH.

Kerana melalui DAKWAH, orang balik semula mengamalkan Islam, samada yang kafir masuk Islam atau yang jauh meninggalkan Islam balik semula amalkan Islam, yang lemah Islamnya menjadi lebih kuat imannya dan sanggup berjuang untuk memenangkan Islam...

Tanpa DAKWAH, dari rumah orang Islam akan ada yang perlahan2 meninggalkan Islam dan ada menjadi murtad kerana perkara yang kecil-kecil, contohnya bercinta dan mahu kahwin. Lantas mengambil jalan mudah dengan murtad...

Kita tiada pilihan lain, melainkan kita semua perlu BERDAKWAH bersama-sama2 kalau kita mahu jadi hebat di dunia dan di akhirat nanti.

Berdakwah adalah tugas kita semua: Untuk selamatkan diri kita dan untuk selamatkan orang lain. Terpulang kepada mereka untuk tunduk kepada agama. Yang pentingnya kita perlu sampaikan kepada mereka berkali-kali. Memberi hidayah bukan kerja kita, memberi hidayah adalah hak Allah. Tugas atau kerja kita ialah berdakwah, menyampaikan kebenaran sebaik cara. Kita buat kerja kita, kemudian kita serahkan kepada Allah.

Sampaikan kebenaran dengan kasih sayang....