Monday, October 26, 2009

The Miracle of Giving

Buku: “an Introduction to THE MIRACLE OF GIVING”
Author: Ust. Yusuf Mansur
Cetakan Pertama, Agustus 2008 / Sya’ban 1429 H
Penerbit: Zikrul Hakim, Jakarta.
Halaman: 208 hlm.; 15 x 23 cm.
ISBN : 978-979-26-2344-4

Summary by : Hero Wirasmara (PapapFarras)

KEAJAIBAN SEDEKAH

Dalam buku ini, penulis berkeinginan untuk menunjukkan bagaimana seseorang bisa menjadi kaya dengan jalan bersedekah. Dan bahwa menjadi kaya itu bukan mimpi, asal benar caranya disertai ikhtiar langit dan bumi yang juga benar dan tepat.

Penulis juga ingin agar pembacanya percaya bahwa ada kekuatan lain di kehidupan kita yaitu kekuatan Allah, kita tidak usah kelelahan mencari dunia, tidak juga putus asa dalam mencari rezeki, kita tahu bahwa betapa mudahnya menundukkan dunia, asalkan dalam beribadah lebih ikhlas, lebih riang, dan lebih lepas, sehingga ada dorongan untuk segera dan menaruh perhatian yang benar dalam beribadah, yang pada akhirnya akan tumbuh keyakinan bahwa mencari kekayaan dan menjadi kaya (dengan jalan halal dan baik) itu mudah.

Ibadah, jalan rezeki utama, yaitu Bekerja dengan Allah, dan Bekerja untuk Allah. Dengan jalan ibadah dapat menambah dan memperluas jalan rezeki, sedang Ikhlas, do’a, dan harapan akan memberi spirit dalam beribadah. Jadi Ibadah, dalam hal ini bersedekah, sesuai firman Allah dalam QS. Ath-Thalaaq : 7, yang artinya:

“Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah (bersedekah) dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”, 

dan tentunya disertai dengan tambahan ibadah lainnya, seperti: sholat Dhuha dan sholat Tahajjud tidak lupa disertai dengan DOA, adalah bahkan cara “tercerdas” dan “terhebat” sepanjang sejarah cara-cara yang dikerjakan manusia dalam memperoleh rezeki atau bahkan menjadi kaya!!, yaitu tinggal mengikuti saja petunjuk di dalam Al-Quran.

Dalam buku ini juga dijelaskan secara transparant mengenai matematika dasar sedekah, dengan perumpamaan dan perbandingan:

Matematika Science : 10 – 1 = 9

Matematika Sedekah I : 10 – 1 = 19, mengapa bisa begitu ? berikut penjelasannya:

Jika kita punya harta 10 dan disedekahkan 1, maka sisa harta (riil) adalah 9, namun yang satu yang dikeluarkan untuk sedekah itu dikembalikan lagi oleh Allah sebanyak sepuluh kali lipat, sesuai janji Allah dalam QS. Al-An’aam: 160.

“Barang siapa membawa amal baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”. 

Matematika Sedekah II : 10 – 1 = 709, mengapa juga bisa begitu ? berikut penjelasannya:

Jika kita punya harta 10 dan disedekahkan 1, maka sisa harta (riil) adalah 9, namun yang satu yang dikeluarkan untuk sedekah itu dikembalikan lagi oleh Allah sebanyak tujuh ratus kali lipat, sesuai janji Allah dalam QS. Al-Baqarah: 261.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya / sedekah di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Kemudian atas dasar perhitungan matematika sedekah diatas, maka tentunya juga ”berlaku kelipatannya @ gandaannya”, maksudnya yaitu, jika kita memberi (bersedekah) lebih banyak maka akan menghasilkan atau menuai lebih banyak, bahkan hingga “full”!! (maksimum). Untuk itu, jika kita sudah memahami dan meyakini akan fadhilah/manfaat bersedekah, maka tentunya bersedekah sebesar 2,5 % tidaklah terasa cukup, bahkan bisa 10 % atau 20 % atau bisa lebih lagi dari itu. Karena Allah juga menjanjikan balasannya, yaitu dalam QS. Al-Baqarah: 254.

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.”

Dan QS. Al-Baqarah: 265.

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat”

Tinggal kembali kepada diri kita sendiri untuk membuka mata hati kita, untuk berkeyakinan, positive thinking, dan berserah diri (ikhlas) kepada Allah, bahwasanya Allah akan memberikan balasannya dalam bentuk apapun (tidak harus berupa "wang”), dan Allah pasti membalas dengan balasan yang tidak akan dikurangi sedikitpun bahkan dilebihkan sampai batas tidak terhingga jika Allah berkehendak, sesuai JANJI-NYA !!.

Wallahu’alambissawab.

http://mengikatmakna.wordpress.com/2009/02/19/159/

No comments: